SEKAPUR SIRIH
Bekerja dari pagi sampai petang di kantor? Itu sudah kuno, karena sekarang banyak orang yang mengerjakan bisnis cukup dari rumah tanpa harus repot-repot menembus kemacetan lalu lintas ke kantor. Cukup dengan seperangkat komputer, secangkir kopi dan segudang keahlian, Anda bisa menjadi juragan tanpa kantor.
: : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : :

Mengubah Limbah Kayu Jadi Alat Kesehatan

Diposting oleh Agustaman | 14.35 | 2 komentar »

(Tulisan ini pernah saya tulis di majalah DUIT! edisi 6/II/Oktober 2006

Dengan pengalaman dan keahliannya, Eno Suparno “menyulap” limbah kayu menjadi alat bantu kesehatan refleksi. Meski produknya banyak ditiru orang, tapi tak pantang menyerah.


Suatu hari di tahun 1990. Ketika itu seorang office boy sedang mengepel lantai di toko yang menjual alat-alat kesehatan. Entah karena kecerobohan si office boy atau memang gagang kayu pengepel itu yang sudah tua, alat pengepel lantai itu patah. Oleh Eno Suparno, kepala konter toko yang berlokasi di kawasan Glodok, Jakarta, potongan kayu itu tak segera dibuang. Potongan itu dirautnya dengan pisau dan dibentuk sedemikian rupa sehingga jadi alat akupunkur (refleksi) untuk telapak kaki.. Buat Eno, mengenal alat-alat kesehatan bukan hal baru. Selain punya keahlian pijat refleksi, kebetulan juga sudah lebih dari lima tahun dia menjaga toko yang menjual alat kesehatan buatan Jepang dan Korea. Sayangnya, semuanya memakai baterai atau listrik untuk mengoperasikannya. Jadi, sambil memegang potongan kayu pel tadi, dia membayangkan bisa membuat alat refleksi tanpa baterai atau listrik. “Pokoknya saya buat beberapa potong asal jadi. Saya buat sambil jaga toko,” kenang Eno

Potongan kayu yang sudah dibentuk dan jumlahnya tak lebih dari sepuluh tadi, dicoba ditawarkan sembunyi-sembunyi ke konsumen yang kebetulan menyambangi tokonya. Tak dinyana ada yang beli. Padahal dia hanya menjualnya Rp3000-Rp5000. Peristiwa itulah yang akhirnya membuat dirinya bertekad membuka usaha sendiri dan membuat alat kesehatan dari kayu secara massal. Lagi pula pria asal Ciamis, Jawa Barat ini sering melihat kayu-kayu limbah bekas potongan pembuatan furnitur di Klender, Jakarta Timur, tergeletak sia-sia. Tapi untuk membuat massal, dia terkendala tiadanya mesin bubut.

Dengan modal tabungannya yang tak seberapa, Eno merakit sendiri mesin bubut buatannya. Untuk mata bor, pertama kali dia pakai pisau dapur yang dibentuk sedemikian rupa, sedangkan penggeraknya dia pakai dinamo mesin jahit. Berkali-kali dia gagal membuat mesin itu. “Pernah satu bulan saya bisa habis 5 dinamo, karena gagal terus,” cerita Eno yang waktu itu mengerjakan mesin buatannya sepulang kerja di rumahnya kawasan Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Tapi Eno tak putus asa. Mesin bikinannya akhirnya bisa terwujud dan bisa menghasilkan 10-30 buah alat bantu kesehatan yang model dan bentuknya kreasi sendiri. Produknya lalu dijual di toko, tapi tetap sembunyi-sembunyi. Tapi lama-kelamaan pemilik toko tahu. Eno tak ditegur, hanya diminta tetap professional dan tidak merugikan usaha tokonya. Seiring berjalannya waktu, tahun 1993, tiba-tiba pemilik toko memutuskan menghentikan usahanya dan beralih ke fiber glass. Eno dipercayai meneruskan usaha dia di toko tersebut.

Seperti mendapat durian runtuh, Eno menyambut tawaran tersebut, karena dengan begitu dia bisa menjual produknya di toko itu. Dengan dibantu 2 kerabatnya sebagai karyawan, Eno mulai menambah variasi produknya. Dia pinjam kanan kiri tetangga, teman dan saudaranya untuk memperbesar usaha. Tak jarang, pinjamannya macet dan dia kerap ditagih paksa oleh si peminjam. Belum lagi soal pemasaran. Cukup lama produknya yang semula bernama “Aska” tak dikenal. Produknya lebih dikenal dengan merek orang lain karena dia memang hanya sebagai perajin.

Namun sekitar tahun 2000, dia mulai memperkenalkan nama usahanya dan brand produknya. Itu berkat jasa baik seorang tetangganya yang melihat potensi bisnis alat bantu kesehatan buatan Eno cukup prospektif. Atas namanya pula, si tetangga baik budi itu meminjam kredit ke bank untuk menambahi modal Eno sebesar Rp30 juta. “Dia sekarang sudah saya anggap sebagai bapak angkat,” papar Eno dengan mata berkaca-kaca.

Binaan UKM Jaktim


Secara kebetulan, tahun itu juga Lurah Halim yang baru melihat ada UKM yang potensial di wilayahnya. Produk Eno lalu diperkenalkan oleh sang Lurah ke acara-acara PKK Kelurahan Halim. Dari situ produk Eno melanglang buana. Bahkan dia diikutsertakan sebagai wakil Kelurahan untuk lomba UKM di Kecamatan. Hebatnya Eno jadi juara pertama. Pihak Kecamatan pun lalu mendaulatnya ke lomba tingkat Kotamadya Jakarta Timur. Eno memang tidak menjadi juara, tapi produknya sudah mulai dikenal.

Atas usul Ibu Camat, merek Aska diganti menjadi “Melati Health”. “Kata beliau supaya wangi seperti melati,” papar pria 52 tahun ini. Tak hanya mengganti merek, beberapa kejuaraan dan pameran dia ikuti. Tahun 2002 dan 2005 misalnya, dia meraih juara I UKM tingkat DKI Jakarta mewakili PKK Jakarta Timur, Kakek dua cucu ini juga sempet mencicipi pameran di Jakarta dan luar Jakarta atas nama UKM binaan Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) DKI Jakarta, kotamadya Jakarta Timur.

Tahun 2005, Eno dapat bantuan PKK Jaktim dan Dekranasda Jaktim untuk mempatenkan merek Melati Health-nya. Toh itu tak membuat produk Eno tak bisa ditiru. Di beberapa lokasi seperti Glodok dan beberapa lokasi lainnya, produk buatan Eno banyak dijumpai dengan merek lain. Namun Eno menanggapinya dengan besar hati. Katanya, bila hanya memproduksi tanpa tahu pemasarannya tentu percuma. “Buktinya setiap kali saya pemeran, tidak ada produk sejenis yang ikut dipamerkan. Jadi saya rasa persaingan belum ketat dan masih banyak peluang yang bisa dikerjakan. Saya pun siap berbagi ilmu. Bahkan kalau nanti produksi dan pemasarannya nggak jalan, kita bantu dan tampung. Jadi ada take and give lah,” ujar mantan tukang kredit barang keliling di tahun 80-an ini.

Dengan jumlah produk yang sudah mencapai 150 item, Eno melepas produknya mulai dari Rp10 ribu (untuk menghilangkan kelelahan mata) sampai Rp45 ribu (alat pijat clurit dari akar bahar). Semua pekerjaanya itu dilakukan oleh 12 orang karyawannya yang bekerja di samping rumah Eno. Bila ada pesanan besar dari toko atau luar Jakarta, Eno kerap memakai perajin dari daerah asalnya Ciamis. Mereka cukup mengerjakan di sana dan membawa hasilnya ke Eno di Jakarta.

Kini bapak dua putri ini cukup merasa lega, karena dari berbinis limbah kayu yang diubah menjadi alat bantu refleksi, Eno sudah bisa membeli rumah dan sebuah kendaraan yang dipakai dan beberapa motor untuk operasional para karyawannya. Seperti kata pepatah lama, disitu ada kemauan, disitu ada jalan, begitulah Eno Suparno menjalani kehidupannya sebagai perajin alat bantu kesehatan refleksi. $ AGUSTAMAN


2 komentar

  1. Rawalumbu // 14 Januari 2009 11.35  

    Ini yang namanya bekerja, bukan hanya pikiran dan tenaga, juga hati.... Hal seperti ini yang dapat mengunah pola pikir... kita.... Memang hidup terasa berat, namun kita masih dikasih kekayaan oleh Allah dengan pikiran dan peluang bila kita... bisa membaca jaman.....
    Jangan lelah untuk berkarya.....

  2. Alexjazz // 16 Februari 2010 15.45  

    bagaimana cara pemesanan alat pijat tersebut?mohon alamat dan no kontak person. terima kasih.

Posting Komentar