SEKAPUR SIRIH
Bekerja dari pagi sampai petang di kantor? Itu sudah kuno, karena sekarang banyak orang yang mengerjakan bisnis cukup dari rumah tanpa harus repot-repot menembus kemacetan lalu lintas ke kantor. Cukup dengan seperangkat komputer, secangkir kopi dan segudang keahlian, Anda bisa menjadi juragan tanpa kantor.
: : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : :

Bisnis Rumahan

(Tulisan ini pernah saya tulis di majalah DUIT! edisi 7/II/Juli 2007)

Berawal dari keinginannya untuk bisa bekerja di rumah sambil mengawasi anak-anaknya, Nina Mariana Bastari berbisnis fashion dan interior decoration di rumah. Lewat usaha sulam pita Kreasiku, kini dia bisa mempekerjakan 25 orang dan meraih omzet rata-rata Rp15 juta per bulan.

Dari luar halaman, rumah yang terletak di ujung jalan H. Mustafa, di kawasan Kukusan Beji, Depok itu memang nampak sepi. Maklumlah, penghuni di dalam rumah yang berjumlah puluhan orang itu lebih banyak bekerja dengan tangan dan jari-jemari mereka. Pekerjaan mereka memang butuh konsentrasi dan kesabaran. Beberapa perempuan yang rata-rata masih ABG terlihat tekun menyulam pita menjadi rangkaian bunga di sehelai kain. Di sudut lain, dua karyawan pria juga sibuk menggambar pola sulaman di sehelai kertas minyak. Pola gambar itu nantinya bakal dijiplak ke kain-kain (antara lain sutra, katun, organdi) untuk kemudian disulam dengan pita satin, organdi, sutra organdi serta dengan benang sulam.

Si empunya rumah yang juga pemilik usaha sulam pita, Nina Mariana Bastari juga tak kalah sibuk. Sambil menggambar pola awal di sehelai kertas, sesekali Nina melihat hasil kerja karyawannya. Terkadang dia disibukkan dengan ulah anak terkecilnya yang berumur 4 tahun yang meminta sesuatu dari sang bunda. "Yah, beginilah kalau bekerja di rumah, kadang-kadang anak-anak suka grecokin (mengganggu, red.) ibunya. Tapi, saya enjoy aja karena memang saya tidak bisa jauh-jauh dari rumah mengurus suami dan anak-anak," kata Nina, pemilik usaha "Kreasiku" kepada DUIT!.

Sejak menikah dengan Djuaja Bastari, seorang pegawai PT Telkom, Nina mengaku memilih menyediakan waktu yang lebih untuk anak-anak dan suami ketimbang menjadi pegawai kantoran. "Pernah sih saya bekerja freelance dengan teman-teman di proyek properti. Tapi, karena harus ikut suami pindah-pindah tugas ke daerah, terpaksa berhenti bekerja. Akhirnya, waktu saya lebih banyak di rumah mengurus keluarga," sambung mantan alumnus Teknik Sipil Institut Sains & Teknologi Nasional (STTN), Jakarta ini.

Berawal dari waktu luang itulah Nina kemudian terfikir untuk membuat usaha sendiri di rumah. "Ceritanya ketika kami sekeluarga tinggal di Bogor, saya coba-coba membuat taplak meja, sarung bantal dan produk interior lainnya dengan bahan baku tenun Pekalongan. Semuanya saya desain sendiri, tapi penjahitannya diserahkan ke penjahit betulan. Saya lalu tunjukkan ke teman-teman. Ternyata mereka berminat dan membelinya. Sejak itu, saya serius menekuni usaha ini di rumah," kisah Nina.

Pada akhir 2001, Nina keluarga pindah rumah ke kawasan Beji, Kukusan, Depok, tak jauh dari kampus UI. Di sini, Nina masih meneruskan usaha tenun Pekalongannya. Sampai suatu saat di tahun 2002, Nina yang memang senang dengan kerajinan tangan ini mendapat informasi dari teman-temannya soal tren model busana baru di luar negeri yang menggunakan corak sulam pita. Informasi ini membuatnya tergerak ingin membuat usaha fashion dan interior decoration dengan memakai sulam pita.

"Dengan modal Rp5 juta pemberian suami, saya beli buku-buku dan literatur lainnya dari luar dan dalam negeri tentang sulam pita. Saya juga beli bahan-bahan seperti kain, benang dan pita untuk mempraktekkan apa yang saya baca. Karena dasarnya saya senang kerajinan tangan, proses pembelajaran itu terbilang cepat. saya mulai menguasai cara dan mencoba membuat beberapa produk jadi seperti kerudung dan sarung bantal dengan corak sulam pita," ujar ibu empat anak ini.

Dibantu satu asistennya, Nina mulai mengembangkan produk lainnya. Meski waktu itu Nina mengaku sulam pitanya masih bercorak standar, tapi sambutan dari teman-teman yang melihatnya terbilang positif. Seiring dengan mahirnya dia menyulam dan bertambahnya jenis produk yang dibuat, Nina yang mengusung merek Kreasiku mulai menambah tenaga kerja yang direkrut dari anak-anak putus sekolah di Tasikmalaya dan sebagian dari dekat tempat tinggalnya.

"Mulanya 5 orang, lalu bertambah jadi 12, 30, sampai 40 orang. Belakangan jadi 25 orang karena seleksi alam. Yang merasa tidak sabar, tidak telaten, akhirnya mundur teratur. Mencari SDM untuk usaha ini memang susah-susah gampang. Makanya, saya mengajari karyawan dengan manajemen hati, bukan uang. Selain perlu ketelatenan dan kesabaran, membuat produk handmade ini juga perlu sifat mencintai dan ikhlas. Dengan keikhlasan itu nanti ujungnya adalah hasil dan tentu saja uang," ujarnya berfilosofi.

Selain karyawan tadi, Nina juga dibantu Ita, sang adik yang mantan profesional bank, untuk mengatur cash flow keuangan serta seorang temannya yang kebagian untuk promosi dan pemasaran. "Tugas utama saya, tentunya selain sebagai ibu rumah tangga adalah konsentrasi di produksi dan pengembangan desain. Untuk urusan uang dan pemasaran, biarlah dijalankan oleh orang yang lebih kompeten di bidangnya," kata perempuan berdarah Makasar ini.

Dipesan Para Istri Pejabat Tinggi

Dengan pola kerja seperti di atas, saat ini Kreasiku bisa menghasilkan ratusan corak sulam pita di atas produk mulai dari kerudung, kain, busana muslimah, tas perempuan, sepatu, tempat tissue, tas HP, sarung bantal, bed cover, hiasan dinding sampai kap lampu. Agar tidak monoton, Nina menambahkan manik-manik pada kerajinan sulam buatannya.

Lewat patokan harga jual mulai dari Rp50 ribu (tas HP) sampai Rp2 juta (bahan/kain), produk Kreasiku dipasarkan lewal mulut ke mulut, dari satu teman ke teman lainnya. Pameran? "Ajang pameran pertama kali yang saya ikuti baru Inacraft 2007 lalu. Walaupun pertama, hasilnya alhamdulillah lebih dari Rp15 jutaan, itu di luar perhitungan kami. Malah dari ajang itu, kami mendapat pesanan dari Perancis," kata Nina yang stand-nya mendapat penghargaan sebagai Stand Terbaik ke-2 di Inacraft 2007.

Produknya "yang terbang" ke luar negeri memang bukan pertama kalinya. Nina mengaku, lewat teman-temannya yang memesan dan membawanya ke luar negeri, produk Kreasiku sudah merambah negeri jiran, seperti Malaysia dan Singapura. Bukan itu saja. Kain sulam pita Kreasiku ternyata juga kerap jadi pesanan para istri pejabat tinggi negara dan istri pengusaha yang lalu diubah menjadi pakaian resmi mereka ketika menghadiri suatu acara.

"Konsumen saya sepertinya kebanyakan kaum ibu paruh baya, terutama untuk produk kain. Ada juga pembeli yang lalu menjual produk saya di butik. Selebihnya, konsumen beragam dan datang ke rumah saya dari berbagai tempat, termasuk luar Jabodetabek," ujar perempuan berusia 42 tahun ini.

Dalam sebulan, Kreasiku bisa menghasilkan sekitar 100 pieces kerudung dan 50 pieces kain/bahan (termasuk untuk bahan sepatu, kap lampu, sarung bantal dll). Untuk beberapa proses pembuatan, Nina 'melempar' produknya ke tukang jahit sepatu (untuk produk sepatu) dan ke penjahit lainnya untuk sarung bantal, bed cover, tas, dan sebagainya. Begitu juga untuk frame hiasan dinding. "Tapi, khusus hiasan dinding sulam pita, saya sendiri yang mengerjakan. Ini tidak bisa saya delegasikan, karena butuh sentuhan seni tersendiri," papar Nina yang mengaku mencari bahan-bahan baku produknya ke Pasar Mayestik, Kebayoran Baru, Jakarta ini.

Di rumah asrinya yang berdiri di atas lahan 700 m2, Nina berencana ingin mengembangkan rumahnya sebagai workshop sekaligus butik. Nina berharap usahanya bisa banyak menyerap tenaga kerja, terutama anak-anak putus sekolah dan ibu-ibu rumah tangga yang ingin mencari penghasilan tambahan buat keluarganya. Bahkan, sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas rezeki yang diterimanya, Nina bersama kerabat dan temannya membuat Yayasan Baitul Mukhlisin di kawasan Sawangan, Depok untuk membantu anak yatim dan kaun dhuafa.

"Ini bagian kewajiban saya membayar zakat," ucap Nina yang bisa meraih omset rata-rata Rp10-15 juta per bulan ini mengakhiri ceritanya. $ AGUSTAMAN.

2 komentar

  1. Unknown // 23 Desember 2012 pukul 14.58  

    untuk item lainnya bisa klik disini: Tas Sulam Pita, Tas Pesta Online , Tas Sepatu Batik, Tas Pesta Wanita

  2. Unknown // 18 Januari 2014 pukul 17.36  

    Ass.. Bu NIna, Alhamdulillah saya bisa baca berita ttg Ibu.Brp no telpnya?Masih bolehkah saya bergabung menyulam lg?Trimakasih (Ika-02195114404)

Posting Komentar