SEKAPUR SIRIH
Bekerja dari pagi sampai petang di kantor? Itu sudah kuno, karena sekarang banyak orang yang mengerjakan bisnis cukup dari rumah tanpa harus repot-repot menembus kemacetan lalu lintas ke kantor. Cukup dengan seperangkat komputer, secangkir kopi dan segudang keahlian, Anda bisa menjadi juragan tanpa kantor.
: : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : :

(Tulisan ini saya tulis di Liputan Utama majalah DUIT edisi 7/I/NOVEMBER 2006)

Bisnis rumahan bila dikelola secara profesional akan menjadi besar. Banyak bisnis besar dan berhasil berawal dari bisnis rumahan. Langkah awal memulai bisnis rumahan tak beda jauh dengan bisnis kantoran. Hal pertama yang perlu ditentukan adalah jenis usaha.


Siapa bilang usia tua menghalangi niat seseorang untuk menjadi pengusaha. Tidak percaya? Lihat saja kiprah Mami Suyatmi. Meski usianya sudah menginjak 69 tahun, ibu tiga anak dan nenek dua cucu ini masih sibuk mengelola usaha pembuatan kecap manis. Dengan merek Kecap Cap Ibu dan berlabel bergambar dirinya, Mami masih memasok 30 dus (berisi 12 botol besar) kecap setiap bulan ke para pelanggannya yang tersebar di Jakarta, Depok dan sebagian di Bandung.

Mami bercerita, pembuatan kecapnya secara tak sengaja. Dimulai ketika keluarganya pindah dari Surabaya ke Depok, Jawa Barat, selepas suaminya pensiun sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Departemen Kesehatan. “Waktu itu saya lihat banyak penjual bakso, nasi goreng, mie ayam yang lewat depan rumah selalu memakai kecap untuk menambah rasa makanan. Tapi di lidah saya, kecap yang disuguhkan rasanya kurang gurih. Makanya saya bikin sendiri kecap di rumah yang resepnya dapat dari orang tua saya,” kenang perempuan yang juga menekuni usaha pembuatan kue kering ini.

Para tetangganya di perumahan Permata Duta, Depok yang kebetulan mencicipi kecap buatan Mami banyak yang pesan dibuatkan lagi. Dari situ muncul ide untuk memasarkan produk kecap buatan Mami dan dibuatkan dalam produksi massal.

Lain lagi yang dilakukan Metavia Tanjung. Meski usianya sudah lebih dari setengah abad, ibu lima anak dan nenek satu cucu ini juga masih sibuk berkutat dengan potongan-potongan kain perca. Lewat keterampilan yang didapatnya secara otodidak, Meta membuat patchwork (seni kain perca) untuk dibuat aneka produk seperti bed cover, sarung bantal, celemek, tatakan panas dan sajadah. Hebatnya, seni kain perca buatannya sudah melanglang buana ke negeri Taiwan. Maklumlah, selama tiga tahun (1997-2000) Fafa Quilts & Crafts, nama merek dagangnya, Meta hanya memasok khusus si buyer dari Taiwan tadi yang nilai kontraknya per 2-3 bulan sekitar US$3.700 lebih. Kini, dibantu 4 karyawan perempuan yang bekerja di paviliun rumahnya, Meta masih menerima pesanan dari pasar lokal yang antara lain didapat dari hasil ikut ajang pameran di mana-mana. Dari hasil berbisnis itu, dia kini bisa mewujudkan rumah impiannya di kawasan Meruya, Jakarta.

Lilis Pudjasari, 59 tahun, juga tergolong ibu rumah tangga yang enerjik. Terbukti pada usia yang tak lagi muda masih keratif dan produkstif. Dalam keseharainnya, ibu lima anak ini membuat kue kering bermerek Flamboyant Cookies di rumahnya, kawasan Sukajadi, Bandung. Hebatnya, saat ini sedikitnya Lilis memasok 10 jenis kue ke hypermarket terkenal di Jakarta dan sekitarnya termasuk dua di Bandung. Padahal, aku perempuan yang sejak 1987 sudah menggeluti bisnis kue kering ini, dirinya hanya memanfaatkan maraknya pertumbuhan dan perkembangan pasar modern. “Awalnya saya mencoba membawa beberapa sampel produk ke hypermarket tersebut. Tak dinyana, seminggu setelahnya saya dihubungi manajemen mereka setelah melihat dan menguji hasil produk kue saya,” papar Lilis bangga.

Keberuntungan menjadi pemasok hypermarket terkenal juga dialami Suryatun Hanifah, pemilik usaha VC Karina yang memproduksi aksesori busana muslim. Perempuan berusia 64 tahun ini awalnya memulai usaha untuk mendukung perekonomian keluarga mengingat sang suami, Abu Hanifah, sudah pensiun. Singkat cerita, setelah dapat kredit dari sebuah bank pemerintah sebesar Rp100 juta, ia mengawali dengan handicraft. Namun ternyata jenis usaha ini tidak menunjukkan hasil yang memadai.

Suatu saat, datang tawaran satu department store yang meminta Suryatun memasok perlengkapan atau aksesoris busana muslim. Kesempatan ini tak disia-siakan. Ia lalu beralih memasok aksesoris busana muslim ke berbagai pusat perbelanjaan meskipun dimulainya dari kecil-kecilan dengan empat penjahit dan satu tukang potong. Meski nyaris kolaps ketika kerusuhan Mei 1998 melanda Jakarta karena tempat pasokannya dibakar massa, Suryatun perlahan bisa kembali bangkit. Puncaknya, tahun 2001 lalu dia diminta memasok ke hypermarket terkenal. Dari semula hanya empat jenis produk di sembilan gerai hypermarket ini, kini dia memiliki 30 item yang dipasok buat 25 gerai hypermarket tersebut.

Mulailah sekarang

Kiprah para ibu paro baya di atas hanyalah sebagian contoh bahwa faktor usia tak menghalangi seseorang yang berniat menjadi entrepreneur. Contoh itu juga membuktikan bahwa kita bisa memilih berbagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan di rumah dan menjadikannya sebagai sumber pemasukan buat keluarga. Tak hanya itu, bila usaha tersebut kian moncer dan menjadi besar, kita bisa menjadi dewa penolong bagi orang lain yang butuh pekerjaan.

Langkah awal memulai bisnis rumahan tak beda jauh dengan bisnis kantoran. Hal pertama yang perlu ditentukan adalah jenis usaha, karena merupakan tahap yang sangat menentukan. Bisnis yang dijalankan dari rumah, tampaknya cocok dengan kehidupan ibu rumah tangga. Dengan waktu yang fleksibel, seorang ibu dapat membagi waktu antara bisnis dan urusan keluarga. Begitu pula komunitas yang merintis bisnis, seperti mahasiswa, maupun pencari kerja, jutru dari merekalah selalu ada inovasi maupun kreativitas yang dapat dikembangkan untuk perkembangan bisnis rumahan, yang rata-rata sedang dibutuhkan konsumen.

Bisnis rumahan yang dikelola secara profesional bukan tak mungkin menjadi besar. Banyak bisnis berhasil yang dimulai dari bisnis rumahan, seperti Nurhayati Subakat pemilik Wardah, produk kosmetik untuk muslimah. Dia awalnya harus menjajakan produk shamponya dari satu salon ke salon lain. Kini produknya tersebar di seluruh Indonesia dan ratusan orang bekerja padanya.

Soal peluang? Peluang itu ada di mana-mana. Cobalah buka mata, telinga dan intuisi Anda dengan baik. Anda bakal menemukan banyak sekali ide usaha. Bila Anda hobi memasak, merancang sepatu, mengumpulkan barang bekas, mengumpulkan komik, bisa jadi ide bisnis buat Anda. Asalkan Anda kreatif dan membuat sesuatu yang disukai pasar, maka peluang untuk berhasil lebih terbuka. Anda bisa mengikuti jejak Nila Sari yang sukses dalam bisnis membuat kue, atau pendesain sepatu ekslusif seperti Linda Chandra atau juga bisa ide kreatif anak muda yang menuangkannya lewat tulisan seperti pada Kaos Dagadu Yogya.

Andapun bisa menciptakan peluang itu. Misalnya saja peluang untuk membuat tempat penitipan anak, sanggar tari atau lukis, berbisnis barang bekas lewat internet dsb. Tak salah juga kalau Anda mengekor bisnis yang sudah dibuka orang lain. Misalnya bisnis ayam goreng yang sudah menyebar di kota besar, ternyata menimbulkan ide menjual ayam goreng ala McDonald yang harganya lebih terjangkau masyarakat. Atau juga bisnis konveksi busana muslim yang sedang marak. Tentu Anda harus lihat apa kebutuhan pasar terhadap busana muslim. Kekosongan yang tidak tersedia, bisa kita isi.

Lalu, apa yang kita lakukan setelah ide tercetus? Lakukan saja. Maksudnya di sini bukan tanpa perhitungan. Hanya saja jika terlalu ketat hitung-hitungan resiko yang muncul kemudian adalah rasa ragu-ragu. Ide cemerlang Anda sudah kabur dibawa orang lain.

Yang tak kalah penting adalah bermimpi. Karena semua yang kita nikmati sekarang ini berasal dari mimpi yang dianggap tidak mungkin. Dulu Sosrodjojo ditertawakan karena dinilai bermimpi menjual teh dalam kemasan botol. Atau juga Tirto Utomo yang ditertawakan karena idenya menjual air minum dalam kemasan. Tapi siapa kini yang tak kenal dua merek tersebut?

Setelah punya mimpi dan ide yang baik, beranikan diri untuk mencoba melakukannya. “Berani adalah modal seorang entrepreneur,” ungkap Bob Sadino, pengusaha terkenal yang memulai usaha dari nol. Andaikan modal menjadi penghalang keberanian Anda, ketahuilah banyak pengusaha sukses yang memulai usaha dari nol. Ada yang berjualan batik titipan orang, keuntungannya dijadikan modal usaha seperti Dyah Suminar (sekarang pengusaha batik terkenal dari Yogyakarta). Ada juga Purdi Chandra, pemilik Bimbel Primagama yang memulai usahanya hanya dengan Rp300 ribu hasil melego sepeda motornya.

Untuk memperoleh modal bisa macam-macam. Biasanya didapat dari investor, baik dari lingkungan keluarga sendiri ataupun dari pihak lain, misal rekanan bisnis, BMT, BPR, bank-bank syariah. Selain itu dapat pula diperoleh dari perusahaan-perusahaan besar seperti Telkom, Pertamina dll yang biasanya bermitra dan membantu UKM dalam mengembangkan suatu bisnis rumahan.

Bisnis di rumah tentunya memiliki keuntungan yang jelas dalam hal penghematan modal dan mudah dalam hal pengawasan. Yang menjadi masalah mengelola bisnis adalah berubahnya fungsi rumah sebagai rumah tinggal, menjadi kehilangan fungsi privasinya karena digunakan untuk usaha. Tentunya diperlukan kearifan untuk menyelesaikan masalah, misalnya setelah usaha menjadi besar dapat pindah ke kantor yang baru. Selamat mencoba!$ AGUSTAMAN

11 komentar

  1. Kiki // 25 Maret 2010 14.17  

    mantap...semangat...

  2. game freak // 29 Maret 2010 20.13  

    wah boleh jg tuh ilmunya

  3. eko rosandi // 15 November 2010 13.09  

    terima kasih sangat membantu
    kunjungi juga http://erosandi.blogspot.com

  4. huhuy // 14 Juli 2011 08.43  

    benar juga .kerja yang menghasilkan.kerja yang disukai.kerja yang paling mudah di jalankan

  5. Didin Ksatria Berbeda // 4 Februari 2012 16.27  

    ya bnr jg y?

  6. Ryan // 4 Mei 2012 23.19  

    setuju gan mantap artikelnya.

    usaha rumahan

  7. adnan sandri // 24 Juli 2012 13.43  

    sanagt memberi motivasi tuk generasi muda.....thanks gan
    www.sepuluhribu.com//id=sukses99

  8. adnan sandri // 24 Juli 2012 13.46  

    luar biasa.....thanks gan
    www.sepuluhribu.com//id=sukses99

  9. adnan sandri // 24 Juli 2012 13.48  

    jadi termotivasi ni....thanks gan
    www.sepuluhribu.com/?id=sukses99

  10. PPOB NASIONAL // 14 Oktober 2013 11.47  

    ‘PELUANG USAHA MODAL SANGAT KECIL’
    Bagi agan-agan yang ingin membuka usaha
    Tapi bingung ingin membuka usaha apa dan hanya mempunyai modal kecil
    Tak usah bingung,silahkan buka usaha pembayaran online
    “ppob /online nasional”
    Satu deposit bisa melakukan transaksi berikut:
    Seperti listrik,tiket pesawat, tiket ka ,pln,pdam, telepon, speedy, kartu kredit, tv kabel, pulsa, kredit multifinance, dll secara mudah, murah namun tetap dengan dukungan teknologi yang handal dan sistem bisnis yang fleksibel dan menguntungkan.
    Hanya bermodal ‘rp.100.000,’
    info lengkap Hubungi : www.fastpaynasional.com
    Hp:081335640101

  11. Nardi Otongdotcom // 3 Februari 2014 20.48  

    Mantap ne infonya thanks gan..
    Bisnis VSI Ustad Yusuf Mansur

Poskan Komentar