SEKAPUR SIRIH
Bekerja dari pagi sampai petang di kantor? Itu sudah kuno, karena sekarang banyak orang yang mengerjakan bisnis cukup dari rumah tanpa harus repot-repot menembus kemacetan lalu lintas ke kantor. Cukup dengan seperangkat komputer, secangkir kopi dan segudang keahlian, Anda bisa menjadi juragan tanpa kantor.
: : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : :

Mengemas Souvenir dalam Wadah Cantik

Diposting oleh Agustaman | 14.31 | 3 komentar »

(Tulisan ini pernah saya tulis di majalah DUIT! edisi 02/III/Februari 2008)


Dibantu enam karyawan, Dosy Rahmad memproduksi aneka boks cantik pesanan beberapa perusahaan ternama. Dia iklas memberikan pengetahuannya lewat pelatihan pembuatan produk/kemasan supaya bernilai jual tinggi buat para pengusaha UKM.

Jarak Bekasi Barat dengan kawasan Kebon Nanas, Jakarta Timur apalagi melewati jalan raya Kali Malang yang kerap macet, sebenarnya relatif cukup jauh dan melelahkan. Namun, hal tersebut tak menghalangi Dosy Rahmad menyambangi anak buahnya di sebuah rumah di Komplek AL, Jl. D.I Panjaitan Bypass. Maklumlah, di rumah sekaligus workshop tersebut, enam anak buah Dosy sehari-hari mengerjakan kerajinan tangan pembuatan aneka souvenir boxes pesanan beberapa perusahaan.

“Bagaimanapun sibuknya saya, sesekali harus datang ke workshop untuk melihat kerja karyawan. Walaupun sudah bisa 'dilepas', tapi untuk urusan desain dan administrasi tetap saya yang menangani,” papar Dosy kepada DUIT! Apalagi, katanya, dia harus menyelesaikan pesanan aneka boks dari sebuah perusahaan terkenal yang kini sudah masuk tahun kedua.

Setahun belakangan ini Dosy memang harus membagi waktunya antara bekerja sebagai karyawan di perusahaan kontraktor Adimix dan mengawasi usaha yang dirintisnya sejak tahun 2000 silam. “Kebetulan saat ini perusahaan saya sedang mengerjakan proyek pusat perbelanjaan di Bekasi,” sambung arsitek lulusan Universitas Persada Indonesia YAI, Jakarta ini.

Sebagai arsitek, Dosy sudah terbiasa membuat maket properti dari bahan-bahan kertas, karton maupun plastik. Tapi, justru dari situlah dia tertarik membuat boks dari bahan baku karton. Alasannya, mudah dibuat karena hanya butuh karton, cutter, penggaris besi, pulpen dan lem. Selain mudah dibuat, bahan bakunya mudah didapat dan murah. Mengaku belajar secara otodidak, Dosy lalu mencoba sebuah produk boks dengan karton hard board, melapisinya dengan kertas printing dan kertas daur ulang.

“Waktu itu hasilnya, menurut saya, sudah lumayan. Karena, waktu saya bawa ke teman-teman, mereka minta dibikinin. Mulai dari situlah saya dapat order kecil-kecilan,” ujar Dosy yang memulai usahanya pada tahun 2000 dengan modal hanya Rp50 ribu saja. Dia menamai usahanya dengan nama “Ide Dosi”.

Seperti peribahasa bilang, sedikit-dikit lama-lama jadi bukit, begitulah usaha Dosy. Dari satu order kecil, lama-lama dapat order besar. Order bertambah, karena Dosy mengaku ikut rajin pameran di beberapa tempat untuk memperkenalkan produknya ke konsumen.

Pesanan pertama yang lumayan jumlahnya datang dari perusahaan tambang besar Rio Tinto. Tak lama kemudian, BCA juga meminta produknya sebagai souvenir gift buat para nasabahnya. Untuk mengerjakan pesanan besar tadi, Dosy meminta bantuan teman-temannya. Ketika itu dia masih mengerjakan di rumahnya, kawasan Kali Malang, Jakarta Timur.

“Dulu kalau lagi banyak order, kami bisa mengerjakan sampai belasan orang, lho!,” terang Dosy yang kemudian memindahkan workshop-nya ke rumah kosong milik tantenya di komplek AL, Kebon Nanas, Jakarta. Apalagi, sambungnya, ketika itu Ide Dosi masih memasok untuk toko cindera mata, Chicmart, di Pasar Festival, Kuningan, Jakarta. Toko tersebut cukup ramai dikunjungi pembeli yang kebetulan berbelanja di Carrefour Kuningan. Tapi, ketika Carrefour harus pindah ke kawasan Casablanca, toko tersebut menjadi sepi. Dan itu berdampak juga buat produksi Ide Dosi.

“Sekarang anak buah saya tinggal enam orang karena memang ada penurunan pesanan. Tapi, jika ada order besar lagi, pasti saya tambah orang,” kata pria berdarah Flores kelahiran 1975 ini.

Tak Melayani Retail

Dengan ditutupnya toko Chicmart yang dulu dipasoknya, Dosy mengaku dirinya kini tak melayani lagi pesanan retail. Dia hanya melayani pesanan besar dari beberapa perusahaan ternama. Saat ini, Ide Dosi sedang mengerjakan pesanan aneka boks dari pihak ketiga, Amaralis Floral & Party Decorator. Perusahaan yang didirikan oleh Atika Shahab ini memesan untuk kliennya, antara lain Standart Charter dan Citibank. Khusus Citibank, kata Dosy, produk yang dikerjakannya sudah masuk tahun kedua.

Di luar itu, Dosy juga menerima pesanan dari beberapa pembeli yang kebanyakan perusahaan, seperti perusahaan kosmetik dan advertising. “Umumnya mereka memesan untuk produk yang mau diluncurkan ke konsumen. Ada juga untuk corporate gift,” ujar suami dari Yogiswari Pradjanti, produsen keramik ogiYogi.

Dosy juga rajin ikut ajang pameran, semisal di Inacraft dan beberapa pemaran yang diadakan Dekrasda DKI dan Sudin Perdagangan Jakarta Timur. “Kami menjadi binaan mereka. Jadi kalau ada pameran selalu diajak. Waktu ikut pameran Inacraft 2006 dan 2007 kemarin juga atas kebaikan binaan kami tadi,” jelas Dosy.

Saat ini Dosy sudah meluncurkan ratusan item boks dengan berbagai model dan bahan pelapisnya. Bahan baku utama boks buatan Dosy adalah kertas karton hard board (ketebalan mulai 1,5 ml-4 ml) yang dia dapatkan dari pemasok di Tanah Abang dan Mangga Dua, Jakarta. Terkadang dia juga memakai bahan baku MDF (semacam triplek berbahan baku bubur kayu alias particle board). Sedangkan untuk melapisinya, Dosy memakai kertas printing/fancy, kertas daur ulang, dan kulit sintetis.

Untuk penjahitannya (karena ada beberapa model pelapis harus dijahit), Dosy memanfaatkan penjahit freelance yang dikenalnya. “Kalau ordernya kecil, ya dikerjakan sendiri. Tapi kalau banyak, mesti diorder ke lain tempat. Untuk potong kertas misalnya, kita minta tolong ke pemasok supaya langsung di potong sesuai ukuran yang diminta. Kami tinggal melipat dan mengelem saja,” kata Dosy yang punya 5 mesin (antara lain mesin jahit dan mesin embos).

Dengan kapasitas produksi 500-1000 boks per bulan dan harga jual mulai dari Rp10.00 ribu-Rp250 ribu/boks, Dosy mengaku bisa mengantungi keuntungan bersih rata-rata Rp50 juta per bulan.

“Pasar produk ini sebenarnya masih luas. Bahkan, terkadang sesama pemain kita justru kerjasama dan saling membantu. Misalnya, kalau satu kelebihan order tapi tak sanggup mengerjakan sendirian, dibagi ke pemain lain. Begitu juga, kalau dia menerima pesanan tapi barang kosong, dia lari ke tempat lain,” papar Dosy yang masih menyempatkan diri memberikan pelatihan dan workshop tentang pembuatan kemasan supaya bernilai jual tinggi untuk para pengusaha UKM di Dekranasda DKI ini. $ AGUSTAMAN.



3 komentar

  1. sam' // 14 Juli 2009 18.39  

    kami PINBOO Bandung hendak mempromosikan pruduk PIN, dlm berbagai model mulai seperti pin penitik,
    pin gantungan kunci bolak-balik, pin gantungan kunci+crop pembuka botol,
    pin magnet,dan pin gantungan kunci 1 muka, kami juga menjual laminasi(glossy, salur/kanvas, gliter, dll)
    dan bahan baku pin mulai dari ukuran 25mm s/d 75mm.
    selain itu kami juga membuat id-card instan dan menjual bahan baku id-card 2 muka(bolak balik)
    terimakasih..
    tlp. (022)91147817, (022)91357313
    http://www.pinboo.org
    proprint_pinboo@yahoo.com

  2. bois goranto // 11 Maret 2016 09.36  

    Bisa di kembangkan di kabupaten lembata ka brow....

  3. bois goranto // 11 Maret 2016 09.37  

    Bisa di kembangkan di kabupaten lembata ka brow....

Posting Komentar