SEKAPUR SIRIH
Bekerja dari pagi sampai petang di kantor? Itu sudah kuno, karena sekarang banyak orang yang mengerjakan bisnis cukup dari rumah tanpa harus repot-repot menembus kemacetan lalu lintas ke kantor. Cukup dengan seperangkat komputer, secangkir kopi dan segudang keahlian, Anda bisa menjadi juragan tanpa kantor.
: : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : :

Pasarnya Kelas Atas Dalam dan Luar Negeri

Diposting oleh Agustaman | 13.39 | 0 komentar »

(Tulisan ini pernah saya tulis di majalah DUIT! edisi 05/Mei 2008)

Memulai bisnis tidak disengaja, Fiya Trissia kini dikenal sebagai produsen perhiasan dan aksesoris fashion untuk kelas atas. Produknya sering dipamerkan di mancanegara.

“Kalau mau wawancara dan memotret produk, saya tunggu kedatangan Anda secepatnya di rumah. Soalnya, sebentar lagi saya harus mengepak jualan saya. Mau dibawa pameran ke Polandia awal Mei ini,” begitu pesan Fiya Trissia di seberang telepon kepada DUIT! belum lama berselang.

“1st Indonesia Expo in Central and East Europe” yang berlangsung di ibukota Polandia, Warsawa pada 8-10 Mei 2008 adalah ajang pameran yang dimaksud Fiya. Fiya hanyalah satu diantara puluhan perajin lainnya asal Indonesia yang bakal memenuhi stand di ajang pameran untuk pasar Eropa Tengah dan Timur tersebut. Bagi Fiya sendiri, berpameran di mancanegara memang bukan sekali ini saja. Perajin perhiasan mutiara dan permata serta aksesoris fashion lainnya ini juga pernah memajang produknya bersama produsen dan perajin Indonesia lainnya di Los Angeles, Amerika Serikat; Tokyo, Jepang (dua kali); Mumbai, India; Hamburg, Jerman; dan Milan, Italia. Ini belum termasuk ajang pameran yang diikutinya di dalam negeri. Di negeri sendiri, dia juga kerap mengikuti ajang pameran besar dan bergengsi, seperti Inacraft, ICRA, Indo Craft, Gelar Batik Nusantara, dan Woman International Club.

“Lewat pameran inilah saya bisa meluaskan pasar dan mencari buyer-buyer baru, terutama dari asing,” papar perajin yang menjadi binaan Departemen Peridustrian sejak 2006 karena ajang pameran di luar negeri itu. “Tapi itu bukan berarti saya melupakan pasar lokal. lho,” sambung perajin yang membidik pasar menengah atas ini. Sebagai informasi saja, produk buatan tangan Fiya dan para karyawannya ini kerap menjadi langganan ibu-ibu pejabat dan para selebritis. Beberapa nama artis seperti Emilia Contessa, Hetty Koes Endang, Dorce Gamala, menjadi pelanggan setia produk perhiasan Fiya. Produknya juga kerap dipakai para presenter perempuan di tayangan infotainment beberapa staisun televisi tanah air.

“Jujur, sebenarnya bisnis ini dimulai secara tak sengaja. Waktu itu, sekitar tahun 2000-an kalung kristal swaroszky anak saya Fika terbengkalai rusak di kamar. Lalu saya coba perbaiki, memodifikasi kalung itu jadi gelang. Gelang itu jadi perhiasan saya sehari-hari,” cerita ibu dua anak ini.

Suatu hari Fiya hadir dalam sebuah arisan ibu-ibu di lingkungan rumahnya. Seorang ibu tertarik dengan gelangnya dan minta dibuatkan gelang sejenis. Ibu-ibu lain pun memesan perhiasan serupa. Dari sinilah awal bisnis perhiasan istri Didi Mulyadi, seorang kontraktor, ini berjalan.

Demi Kepuasan Pelanggan

Semula, perempuan bayu berusia 44 tahun ini hanya menerima pesanan-pesanan dari para tetangga, teman dan kerabatnya di rumah. Di rumahnya yang cukup besar di bilangan Bangka IX, Jakarta Selatan (kini dia sudah pindah ke Bangka XI C) Fiya mengerjakan sendiri pesanan itu, mulai membeli bahan, membuat sampai mengantarkan barang serta mengurus keuangan. Tapi, ketika pesanan mulai bertambah dan dia tak sanggup lagi mengerjakan sendirian, Fiya akhirnya mencari tenaga tambahan. Mulanya hanya satu pekerja. Namun, seiring meningkatnya pesanan, jumlah karyawan pun bertambah. Saat ini tercatat ada 6 orang karyawan yang siap membantu Fiya memproduksi kalung, anting, gelang, bros dan tusuk konde.

Fiya mengaku, untuk membuat perhiasan yang bisa memuaskan pelanggannya, dirinya tidak pernah memperhitungkan nilai materiilnya. Semahal apapun bahan itu, bakal dia pakai di karyanya. Inilah yang terkadang membuat perhiasan dan aksesoris buatannya berharga tinggi. “Tapi, kalau pelanggan biasanya tahu dengan mutu barang saya,” ujar Fiya yang kerap memakai batu kristal swaroszky, mutiara air tawar, dan batu-batu alam mahal lainnya ini pada produk buatannya. Sebagian besar bahan baku itu masih impor dari Austria dan beberapa negara lain.

Namun, tak sedikit konsumen yang kurang tahu kualitas barang, akan menawar produknya dengan harga rendah. Fiya juga tak memungkiri, ada beberapa pesaing yang membuat produk serupa dengannya tapi dengan batu-batu imitasi. Padahal, kalung atau gelang asli dan imitasinya bisa berbeda harga sampai 3-5 kali lipat. Tapi, kualitas barang palsu tidak terjamin. Contoh soal kristal swaroszky yang asli dari Austria dengan yang palsu dari China. Yang asli lebih bercahaya, tidak bisa tergores dan lebih kuat.

“Tapi kalau konsumen yang sudah menjadi pelanggan tetap, mereka sudah tahu kualitas barang saya. Jadi berani membeli berapapun meski harganya tinggi,” papar perempuan berdarah Padang-Makassar ini. Uniknya, untuk para pelanggan setianya Fiya sudah tahu selera masing-masing. Sehingga, cukup pelanggan bilang seperti ini: bros berbentuk oval, warna coklat, terbuat dari mutiara, permata, maka Fiya sudah bisa menebak keinginan sang pelangan, berikut harga yang cocok. “Tak cuma sekali pelangan menelpon, lalu suruh saya tonton acara infotainment di TV saat itu, dia bilang, saya mau kalung seperti yang dipakai artis itu. Bisa dibikinin khan?” ucapnya sambil tertawa kecil.

Saat ini, harga produk Fiya dibanderol dengan harga mulai dari Rp200 ribuan sampai Rp3 jutaan per untai. Makin besar perhiasan itu, makin banyak batu-batu mahal yang dipakai, makin rumit pembuatannya, maka harganya akan makin tinggi.

Dengan 6 karyawan tadi. Fiya mengaku bisa memproduksi 200 pieces perhiasan per bulan. Jumlah itu kebanyakan pesanan pasar lokal, sisanya sekitar 30 lusin diekspor ke pasar Spanyol dan Amerika Latin.

Setiap hari Fiya terus berkarya menciptakan karya yang baru. Maklumlah, saat ini produsen atau perajin seperti dirinya sudah banyak. Jika dirinya tidak kreatif, maka karyanya sudah ditiru rang lain. “Satu hal yang menjadi kunci sukses bisnis kerajinan tangan ini adalah rajin dan tekun. Kalau tidak sabar, maka produk yang dibuat kelihatan tidak cantik,” katanya memberi kiat.

Satu kiat lagi darinya adalah jadilah diri sendiri. Setiap orang punya ciri khas, sehingga pasti berbeda dengan karyawa orang lain. Konsumen akan bisa membedakan antara karya satu orang dengan karya lainnya.

Kini, modal awal sebesar Rp500 ribu telah berkembang biak. Sehingga bisa menghasilkan omset (di luar pameran) Rp30 juta setiap bulan. Namun, semua itu tak membuatnya berpuas diri. “Suatu saat saya ingin buka showroom sendiri di luar rumah. Tapi, karena pada dasarnya saya ini orang rumahan, menjadi ibu rumah tangga sambil mengurus suami dan mengawasi anak-anak yang sebenarnya sudah besar, rencana itu masih sebatas rencana saja. Karena untuk berbisnis ini saja bukan terpaksa, semuanya dilakukan karena hobi, enjoy dan fun. Kalau ada keuntungan, itu namanya rezeki dari Allah,” ucapnya mengakhiri perbincangan dengan DUIT! $ AGUSTAMAN

0 komentar

Posting Komentar