SEKAPUR SIRIH
Bekerja dari pagi sampai petang di kantor? Itu sudah kuno, karena sekarang banyak orang yang mengerjakan bisnis cukup dari rumah tanpa harus repot-repot menembus kemacetan lalu lintas ke kantor. Cukup dengan seperangkat komputer, secangkir kopi dan segudang keahlian, Anda bisa menjadi juragan tanpa kantor.
: : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : :

Bisnis Rumahan

Pemasok Aksesoris Interior dari Cipadu

Diposting oleh Agustaman | 20.51 | 15 komentar »

(Tulisan ini pernah saya tulis di majalah DUIT! edisi 02/Februari 2008)

Setelah mengalami beberapa fase perubahan semenjak didirikan tahun 2002, Dewi Sambi Tenun mulai berkembang untuk menerima pesanan grosir dalam jumlah besar dari beberapa toko/kios di sekitar Jakarta.

Anda yang warga Jabodetabek, mungkin pernah mendengar nama Cipadu. Ya, kawasan yang berada di Kecamatan Ciledug, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten tersebut sudah lama dikenal sebagai sentra produsen dan perdagangan kain, pakaian dan aneka kerajinan tangan berbahan baku kain.

Nah, kalau kebetulan Anda berkunjung ke sana mungkin bisa menemukan sarung bantal, ataupun gorden buatan Dewi Sambi Tenun yang dijajakan beberapa pedagang di sana. Namun, kalau Anda ingin membeli dalam jumlah banyak alias grosiran, datang saja ke tempat produksinya di Jl. Taman Asri Lama, tak jauh dari sentra kulakan kain Cipadu.
Lokasinya mudah ditemukan karena di tepi jalan raya. Cukup mencolok dengan warna kuning cerah serta tulisan besar “Dewi Sambi Tenun” di depan rumah.

Di tempat itulah, si empunya rumah menempatkan 40 karyawannya untuk memproduksi aneka kerajinan tangan berbahan baku tenun dan batik. Tak hanya tempat memproduksi, tapi ada juga ruang pamer dan penjualan produk.

“Tempat ini kami tempati dan bangun sejak 2005 lalu. Lahan seluas 200 meter persegi ini dibeli dari hasil jerih payah kami berjualan aneka ragam kerajinan dari tenun dan batik ini,” terang si empunya rumah dan pemilik Dewi Sambi Tenun (DST), Wijiastuti alias Uthie kepada DUIT1

Uthie memang pantas bangga dan bersyukur dengan usaha yang dirintisnya dari rumah kontrakan. Bagaimana tidak, setelah mengalami beberapa fase perubahan sejak didirikan tahun 2002 silam, dimulai dari hanya menerima pesanan perorangan dan dengan satu orang karyawan, kini sudah punya 40 orang karyawan untuk melayani pesanan grosir dalam jumlah besar dari beberapa toko/kios di sekitar Jakarta.

“Sejak kecil saya memang sudah tinggal di Cipadu. Awalnya kawasan ini berkembang menjadi sentra kulakan kain untuk menyaingi kulakan kain di Cipulir dan Ciledug> Tapi saya lihat kebanyakan pedagangnya menjual kaos dan kain. Belum ada yang jualan
kerajinan tangan berbahan baku tenun atau batik. Kebetulan, waktu kuliah saya pernah ikut seminar yang intinya tenun masih punya peluang untuk dikembangin jadi bisnis lain,” papar alumnus Universitas Negeri Jakarta jurusan Tata Busana ini.

Dari situlah Uthie mulai tergerak untuk memulai usaha. Atas seijin suaminya, Dwi Mintiarto, Uthie menggunakan uang tabungannya sebesar Rp3,5 juta untuk membeli bahan baku tenun dan batik dari perajin di Pekalongan, Yogyakarta dan Malang. Bahan baku itu kemudian dia jahit menjadi gorden. Hasilnya, dia pamerkan ke beberapa tetangga dan ke beberapa penjual kain Cipadu. Tak dinyana, sambutannya cukup bagus. Bahkan ada yang memesan, meski belum dalam skala besar.

Uthie yang saat itu masih tinggal di rumah kontrakan, kemudian merekrut satu orang penjahit untuk membantunya. “Waktu itu memang ada satu grosir yang awalnya memesan dalam jumlah lumayan. Tapi, lama-lama kok saya merasa ditekan oleh si grosir tadi. Dia juga suka bayar telat. Akhirnya saya putar haluan, jualin produk saya ke beberapa pameran yang biasanya diadakan beberapa perkantoran dan mal di Jakarta,” kisah perempuan berusia 29 tahun ini.

Memasok ke Toko Grosir

Titik balik usahanya mulai kelihatan ketika dia mengikuti pameran Gelar Tenun 2003 di Hotel Sahid, Jakarta. Pembelinya tak hanya orang Indonesia, tapi juga para ekspatriat dan orang asing yang kebetulan menginap di sana. Dari situ, Uthie yang mengusung nama usaha “Dewi Sambi Tenun” lalu mengikuti even-even pameran lainnya. Langkah ini membuat usahanya kian dikenal orang. Tak sedikit yang memesan langsung ke rumahnya.

Karena pesanan mulai banyak, Uthie mulai menambah karyawan. Sang suami yang sebelumnya bekerja di perusahaan swasta, dimintanya mengundurkan diri untuk membantu dirinya yang mulai kewalahan mengembangkan produksi dan desain. Produk yang awalnya hanya gorden, juga mulai dikembangkan untuk memenuhi permintaan. Ada tutup tissue, sarung bantal, tempat koran, tas mungil, tempat laundry, looper, taplak meja, tutup galon, placemate, keset, dan lampu. Semuanya tetap memakai bahan baku tenun kain, batik dan ditambah tenun eceng gondok.

Dia juga rajin ikut pameran kerajinan dengan skala besar seperti Inacraft, ICRA, Indonesia Expo, Pekan Raya Jakarta dan beberapa Expo di Batam, Bali dan Bandung. Pameran di luar kota tadi, membuat DST kebanjiran pesanan.

Di luar pameran, DST juga memasok produknya ke beberapa pedagang retail dan grosir seperti di Cipadu, Pondok Gede, Tamini Square, Mangga Dua, Pusat Grosir Cililitan (PGC), ITC Depok, dan Depok Town Square (Detos). Belakangan DST juga mengembangkan sendirinya outlet-nya di beberapa tempat di Jakarta (Melawai Plaza, Gajah Mada Plaza, Slipi Jaya, Atrium Senen), Tangerang (WTC Matahari Serpong, Bintaro Plaza).
Uniknya, beberapa orang juga memasarkan produk DST lewat cara mereka sendiri. Ada yang lewat internet (internet marketing), ada pula yang menjual langsung. Siska Hapsari misalnya. Perempuan yang juga anggota komunitas bisnis TDA ini menjual produk DST lewat blog. Dia menawarkan peluang untuk menjadi reseller produk DST dengan iming-iming diskon 20% bagi yang membeli paket full set DST. Ada juga tawaran di internet untuk menjadi member DST Club.

Soal ini Uthie menjawab enteng,”Alhamdulillah kalau banyak orang yang dengan caranya sendiri memasarkan produk DST. Ini malah membantu kami, tanpa kami harus keluarkan ongkos promosi”. Asal tahu saja, untuk beberapa pembeli tadi, ada yang beli putus, ada juga yang membayar tempo satu bulan (terutama grosir).

Dengan mematok harga mulai dari Rp10 ribu (tas mungil) sampai Rp150 ribu (lampu hias), Uthie mengaku bisa mengantungi omzet Rp20 juta-Rp300 juta sebulan.

“Produk kami memang dibuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan barang-barang interior yang bernilai seni dan berkualitas dengan harga terjangkau,” kata ibu dua anak yang kini sudah punya rumah sendiri di Perumahan Taman Asri, Cipadu plus 2 buah kendaraan roda empat dan beberapa motor untuk operasional karyawan. $ AGUSTAMAN

Baca Selengkapnya..

Kreasi Boleh Jadul Tapi Tetap Disuka

Diposting oleh Agustaman | 20.40 | 0 komentar »

(Tulisan ini pernah say tulis di majalah DUIT! edisi 10/III/Oktober 2008)

Di usianya yang sudah mencapai setengah abad, May Lita masih kreatif menciptakan produk rajutan untuk home décor, fashion dan aksesoris. Dia punya ratusan perajin binaan yang tersebar di Bali, Jogja dan Jakarta.

Jari-jari tangannya masih cekatan memencet tuts-tuts papan ketik laptop. Kaca mata bacanya membantu dia memelototi komentar yang masuk ke blog pribadinya. Selesai membalas komentar tersebut, dia melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena harus mengawasi pekerjaan anak buahnya: meng-up date dan memasukkan foto-foto yang memajang hasil karyanya. Sesekali dia menghisap dalam-dalam asap rokok putih kesukaannya.

“Kalau lagi bekerja begini, bisa lebih fresh dan konsentrasi sambil merokok,” ujar May Lita kepada DUIT! yang menyambangi kediamannya di kawasan Ciputat, Tangerang.

Komputer, laptop, email, dan blog memang bukan hal baru buat Melli, begitu perempuan paro baya ini biasa disapa. “Soal ketik mengetik, saya sudah mahir sejak muda. Jadinya, waktu jaman beralih dari mesin ketik ke komputer, nggak merasa kesulitan. Hanya saja soal program-program yang ada didalamnya termasuk internet, saya banyak diajarin anak-anak,” papar perempuan kelahiran Medan, 1952 ini. “Dari internet inilah saya memasarkan produk-produk buatan sendiri,” sambung pemilik usaha Rumah Rajut ini.

Ya, Melli adalah produsen kerajinan tangan dengan cara merajut (knitting, crocket dan felting). Knitting adalah rajutan dari benang katun, rayon, acrylic dan kasmere like. Ada yang dikerjakan dengan tangan dan mesin (meski tetap memakai sentuhan tangan untuk pinggiran atau sambungan). Sedangkan crocket (baca krose) adalah rajutan benang yang sepenuhnya dikerjakan dengan tangan. Adapun felting adalah melukis di kain sutera, setelah itu diproses sedemikian rupa dengan tangan sehingga membentuk desain unik untuk pelengkap baju (shawl). “Ketiga jenis rajutan itu saya buat untuk produk home décor, fashion dan aksesoris,” jelas Melli.

Rajutan benang yang biasanya dibuat sebagai pelengkap baju (seperti vest, cardigan), tas, ataupun taplak meja boleh jadi adalah produk jadul (jaman dulu) yang sering dikerjakan oleh ibu atau nenek-nenek kita dahulu. Melli juga mengaku, dirinya mahir membuat rajutan karena dia belajar dari sang nenek sejak duduk di bangku SMP di Medan tahun 1968 silam. Meski jadul, produk rajut ternyata masih punya banyak penggemar. Buktinya, Melli kini memproduksi ratusan item produk rajutan yang sebagian besar dipasok untuk sebuah butik fashion yang menjual produk Indonesia di pusat belanja dan hotel ternama di kawasan Thamrin, Jakarta.

Melli sendiri memulai bisnisnya ketika Indonesia dilanda krisis moneter (1998). Memanfaatkan keterampilan merajut, istri Peter Sulilatu ini mulanya membuat produk anak-anak seperti tas dan baju dengan teknik sulam crocket dan knitting. Produk itu lalu ditawarkan ke teman-teman anaknya. “Waktu itu responnya cukup bagus. Dari satu dua pesanan merambat ke dua, tiga pesanan dan seterusnya. Lewat mulut ke mulut, rajutan saya mulai dikenal teman anak saya dan tetangga rumah,” cerita Melli yang memperdalam pembuatan knitting di Australia ketika keluarganya bermukim di negeri Kanguru tersebut tahun 1973-1980.

Tahun 2006 informasi tentang Rumah Rajut akhirnya sampai juga ke pemilik butik fashion yang memajang dan menjual hasil karya anak bangsa di hotel ternama di bilangan Thamrin, Jakarta. Tak tangung-tanggung, si pemilik butik memesan lebih dari 400 pcs rajutan dari Melli. Boleh dibilang, pesanan pertama yang lumayan besar itu merupakan titik balik Melli untuk mengembangkan produk. Uang muka pesanan dipakainya untuk membeli alat produksi dan merekrut karyawan.

Dari semula dibantu satu orang karyawan, ibu lima anak ini mulai menambah beberapa karyawan lagi. Ketika pesanan kedua sebesar 4.200-an pcs datang lagi, Melli mulai menambah alat produksi seperti mesin jahit dan bahan baku lainnya. Untuk mengerjakan pesanan yang makin banyak, selain di rumahnya sendiri dia juga mendidik dan membina ratusan perajin di Bantul, Jogja dan Bali.

“Di rumah, saya membuat desain dan sample, lalu saya kirimkan beserta bahan baku ke para perajin di Jogja dan Bali. Di Bali saya kerja sama dengan studio rajut di sana. Di sana lebih banyak untuk pengerjaan knitting, kalau di Jogja kebanyakan crocket. Semua bahan, seperti benang saya beli di Bandung dan Surabaya.,” ucap nenek lima cucu ini yang belum memberikan pengerjaan tas rajutnya ke orang lain alias dikerjakan sendiri.

Dapat Kucuran Modal dari Bank

Di luar pengerjaan pesanan dari butik tadi, Melli juga masih melayani 200-an pelanggan di Jakarta dan sekitarnya. Pelanggan perorangan rata-rata adalah perempuan kelas menengah atas, mulai dari anak-anak, ABG sampai dewasa. Beberapa rajutan buatannya bahkan sudah melanglang buana ke mancanegara lewat tangan ketiga. Produk Melli juga memenuhi beberapa toko cindera mata seperti Chick Mart Kemang dan beberapa butik ternama di Jakarta. Dia juga kerap mengikuti pameran-pameran kerajinan tangan dan produk fashion seperti Food & Fashion Festival di Kelapa Gading, Jakarta, Bali Fashion Week dan Inacraft.

“Sebenarnya, memenuhi pesanan dari satu butik di Thamrin saja kami sudah keteteran. Tapi karena banyak pelanggan setia di luar itu, kami tetap mengerjakan pesanan mereka,” papar Melli yang produk felting-nya pernah dinobatkan sebagai “Produk Pilihan” dari majalah Femina.

Melli membanderol produknya mulai dari harga Rp60 ribu (aksesoris: gantungan kunci dll) sampai Rp1 jutaan (produk felting). Sedangkan untuk produk crocket, produknya dihargai mulai dari Rp60 ribu sampai Rp500-an ribu per pcs.

Seperti halnya pebisnis rumahan lainnya, Melli mengaku modal awalnya berasal dari uang tabungannya sendiri. Beberapa kali dia ditawari pinjaman modal dari pihak ketiga, tapi karena ketika itu belum membutuhkan, pinjaman itu tak direalisasikan. Namun, seiring dengan banyaknya pesanan dan niatnya untuk membesarkan usaha, tahun 2008 ini Melli akhirnya berani menerima kucuran dana dari Bank BRI Jakarta berupa Kredit Usaha Rumah (KUR). Sayangnya, perempuan berdarah Batak dari marga Batubara ini enggan mengungkap besaran modal pinjaman yang diterimanya.

Yang pasti, saat ini, dibantu ratusan perajin binaannya dan anak sulungnya Ivan yang membantu di pemasaran produk, Melli terus berkreasi menciptakan varian-varian rajutnya menjadi barang yang tak lekang dimakan jaman.

“Maunya sih punya toko atau butik sendiri. Tapi belum siap karena produksi sekarang saja sudah merepotkan kami. Biar repot, tapi saya bahagia, produk yang katanya jadul ini masih tetap disuka,” tandas Melli yang bisa meraih omzet sekitar Rp20-an juta per bulan ini. $ AGUSTAMAN

Baca Selengkapnya..

Furnitur Buat Anak Berimajinasi

Diposting oleh Agustaman | 13.57 | 0 komentar »

(Tulisan ini pernah saya tulis di majalah DUIT! edisi 11/November 2008)

Semula Really me, bisnis rumahan yang dirintis James Arthur dan adiknya hanya menjual furnitur biasa. Kemudian, mereka memberi perhatian lebih pada barang-barang dekorasi rumah bagi anak-anak.

Ini kebiasaan buruk anak-anak dimana-mana. Sehabis bermain dengan aneka mainannya, mereka malas memberesi atau menaruhnya kembali ke tempat atau wadah yang sudah disediakan. Nah, biar nantinya anak-anak itu mau memberesi mainannya kembali, Anda bisa membelikan boks penyimpan mainan dengan bentuk unik. Ada bentuk ambulans, gerobak es krim dan mobil pemadam kebakaran. Ada juga sofa yang dibawahnya berfungsi menyimpan mainan.
Boks penyimpan mainan tersebut memang sengaja diciptakan James Arthur untuk mengasah imajinasi anak-anak. Selain boks penyimpan mainan (toys box), James juga membuat aneka furnitur untuk anak, seperti tangga khusus untuk anak (untuk naik tempat tidur, cuci tangan, dsb.), meja kursi belajar, gantungan baju, hiasan dinding, tempat sampah. Semua produk furnitur tadi dihiasi dengan gambar-gambar yang mengasah imajinasi anak, semisal gambar yang menceritakan pesawat terbang berangkat sampai akhirnya mendarat di bulan. “Produk kami berkonsep the real finest thing, menciptakan barang-barang terbaik untuk anak-anak,” papar James kepada DUIT!
Menurut James, bisnis rumahan yang ia rintis bersama sang adik semula hanya menjual furnitur biasa. Kemudian, mereka memberi perhatian lebih pada barang-barang dekorasi rumah buat anak-anak. “Adik saya yang kebetulan suka jalan-jalan ke luar negeri, sering melihat barang-barang untuk anak-anak sangat diperhatikan, bentuknya artistik dan fungsional. Di sini, produk seperti itu sukar dicari. Makanya, ketika adik menawarkan kerjasama bisnis, saya langsung mengiyakan. Kebetulan, waktu itu saya sedang senang-senangnya dapat momongan. Ingin membuat sesuatu barang fungsional buat anak saya,” tambah bapak dua anak ini.
Langkah pertama yang dilakukan adalah mencari contoh produk di internet. James kemudian mencoba membuat desain sendiri, mencari bahan baku kayu yang cocok dan mencari tukang (kayu, cat dan lukis) untuk mewujudkan idenya. Setelah berkali-kali mencoba membuat produk yang diinginkan, akhirnya terciptalah produk pertama: toys box.
“Ada sekitar 9 jenis toys box yang waktu itu saya buat. Semuanya hand made,” jelas James yang menghabiskan Rp40 juta sebagai modal awal untuk membuka Really me.
Dengan langkah yakin, James lalu membuka toko di Kemang, Jakarta Selatan untuk memasarkan produk toys box-nya. Alasannya, Kemang dihuni banyak ekspatriat dan masyakarat kelas menengah atas yang jadi sasaran produk Really me. Di sini, tak hanya toys box yang dipajang dan dijual. James juga membuat produk furnitur lain (home accessories dan home décor) untuk anak-anak.
Sayang, toko yang dibukanya tersebut hanya bertahan tiga bulan karena sepi pembeli. “Setelah saya pelajari, ternyata bukan produk saya nggak laku, tapi memang di sana sepi pembeli. Kemang nampaknya bukan primadona lagi buat tempat jualan,” analisa alumnus program D3 Foreign Business Language Universitas Surabaya ini.
Tak patah arang, lelaki yang sebelumnya berbisnis properti bersama sang ayah dan berbisnis souvenir perkawinan ini mencari alternatif lain memasarkan produknya. Dia mencoba ikut pameran Sunday Kid di Cilandak Town Square (Citos), Jakarta. Tak dinyana, pameran pertama yang diikutinya berjalan sukses. Produknya banyak terjual, bahkan banyak yang memesan. Di pameran tersebut, James mengaku mendapat masukan dari pembeli dan menambah jaringan pertemanan antar sesama peserta pameran.

Berkah Setelah Diliput
Pameran di Citos juga membawa berkah lain buat James. Beberapa media elektronik mewawancarinya. Setelah itu beberapa media cetak menuliskan profil bisnisnya. Dari situ, produknya mulai dikenal luas dan mendapat banyak pesanan termasuk dari luar Jawa, seperti Jambi, Padang dan Surabaya.
Saat ini, James baru sebatas mengerjakan pesanan saja. Maklum, pengerjaan semua produknya masih dikerjakan dengan sentuhan tangan alias handmade.
Dengan dibantu 10 orang karyawan dan 2 tukang lukis, kapasitas produksi Really me per bulan baru mencapai 20 furnitur besar dan 100 buah hiasan dinding. Harganya dipatok mulai dari Rp35 ribu sampai Rp1,3 juta (belum termasuk ongkos kirim). “Pelanggan terbesar saya, selain perorangan adalah sejumlah sekolah TK internasional dan dokter anak,” jelas pria berdarah Minahasa berusia 33 tahun ini.
Di luar produk tadi, James sebenarnya memasarkan jual perhiasan (jewelry) seperti gelang, kalung, anting-anting yang khusus dibuat sang adik untuk segmen ibu dan anak. Harga jualnya mulai dari Rp80 ribu sampai Rp1,5 juta (kristal).
Semua pengerjaan produk, mulai dari desain sampai pengecatan, semuanya dilakukan James dan karyawannya di pavilion rumah orang tuanya di kawasan Tebet Barat Dalam, Jakarta. “Selain workshop, disini juga jadi tempat pamer. Untuk sementara saya nggak mau cari ruang pamer seperti di Kemang dulu. Biarlah yang lalu jadi pelajaran untuk usaha saya,” kata James yang juga pernah ikut pameran di ICRA, Smes’Co dan di Pacific Place, Ramadhan lalu.
Saat ini, omzet Really me rata-rata bisa mencapai Rp20 jutaan sebulan. Namun, di masa pameran atau menjelang Lebaran kemarin, omzetnya bisa lebih besar lagi.
Soal persaingan, James mengaku tak menemukan pesaing yang sama. “Memang ada produsen yang membuat juga dengan teknik hand printed, tapi tetap saja beda dengan produk saya. Makanya saya tidak takut (bersaing) karena saya percaya produk kami lebih bagus kualitasnya,” tandas pria yang sempat bekerja di perusahaan periklanan ini. $ AGUSTAMAN

Baca Selengkapnya..

Pasarnya Kelas Atas Dalam dan Luar Negeri

Diposting oleh Agustaman | 13.39 | 0 komentar »

(Tulisan ini pernah saya tulis di majalah DUIT! edisi 05/Mei 2008)

Memulai bisnis tidak disengaja, Fiya Trissia kini dikenal sebagai produsen perhiasan dan aksesoris fashion untuk kelas atas. Produknya sering dipamerkan di mancanegara.

“Kalau mau wawancara dan memotret produk, saya tunggu kedatangan Anda secepatnya di rumah. Soalnya, sebentar lagi saya harus mengepak jualan saya. Mau dibawa pameran ke Polandia awal Mei ini,” begitu pesan Fiya Trissia di seberang telepon kepada DUIT! belum lama berselang.

“1st Indonesia Expo in Central and East Europe” yang berlangsung di ibukota Polandia, Warsawa pada 8-10 Mei 2008 adalah ajang pameran yang dimaksud Fiya. Fiya hanyalah satu diantara puluhan perajin lainnya asal Indonesia yang bakal memenuhi stand di ajang pameran untuk pasar Eropa Tengah dan Timur tersebut. Bagi Fiya sendiri, berpameran di mancanegara memang bukan sekali ini saja. Perajin perhiasan mutiara dan permata serta aksesoris fashion lainnya ini juga pernah memajang produknya bersama produsen dan perajin Indonesia lainnya di Los Angeles, Amerika Serikat; Tokyo, Jepang (dua kali); Mumbai, India; Hamburg, Jerman; dan Milan, Italia. Ini belum termasuk ajang pameran yang diikutinya di dalam negeri. Di negeri sendiri, dia juga kerap mengikuti ajang pameran besar dan bergengsi, seperti Inacraft, ICRA, Indo Craft, Gelar Batik Nusantara, dan Woman International Club.

“Lewat pameran inilah saya bisa meluaskan pasar dan mencari buyer-buyer baru, terutama dari asing,” papar perajin yang menjadi binaan Departemen Peridustrian sejak 2006 karena ajang pameran di luar negeri itu. “Tapi itu bukan berarti saya melupakan pasar lokal. lho,” sambung perajin yang membidik pasar menengah atas ini. Sebagai informasi saja, produk buatan tangan Fiya dan para karyawannya ini kerap menjadi langganan ibu-ibu pejabat dan para selebritis. Beberapa nama artis seperti Emilia Contessa, Hetty Koes Endang, Dorce Gamala, menjadi pelanggan setia produk perhiasan Fiya. Produknya juga kerap dipakai para presenter perempuan di tayangan infotainment beberapa staisun televisi tanah air.

“Jujur, sebenarnya bisnis ini dimulai secara tak sengaja. Waktu itu, sekitar tahun 2000-an kalung kristal swaroszky anak saya Fika terbengkalai rusak di kamar. Lalu saya coba perbaiki, memodifikasi kalung itu jadi gelang. Gelang itu jadi perhiasan saya sehari-hari,” cerita ibu dua anak ini.

Suatu hari Fiya hadir dalam sebuah arisan ibu-ibu di lingkungan rumahnya. Seorang ibu tertarik dengan gelangnya dan minta dibuatkan gelang sejenis. Ibu-ibu lain pun memesan perhiasan serupa. Dari sinilah awal bisnis perhiasan istri Didi Mulyadi, seorang kontraktor, ini berjalan.

Demi Kepuasan Pelanggan

Semula, perempuan bayu berusia 44 tahun ini hanya menerima pesanan-pesanan dari para tetangga, teman dan kerabatnya di rumah. Di rumahnya yang cukup besar di bilangan Bangka IX, Jakarta Selatan (kini dia sudah pindah ke Bangka XI C) Fiya mengerjakan sendiri pesanan itu, mulai membeli bahan, membuat sampai mengantarkan barang serta mengurus keuangan. Tapi, ketika pesanan mulai bertambah dan dia tak sanggup lagi mengerjakan sendirian, Fiya akhirnya mencari tenaga tambahan. Mulanya hanya satu pekerja. Namun, seiring meningkatnya pesanan, jumlah karyawan pun bertambah. Saat ini tercatat ada 6 orang karyawan yang siap membantu Fiya memproduksi kalung, anting, gelang, bros dan tusuk konde.

Fiya mengaku, untuk membuat perhiasan yang bisa memuaskan pelanggannya, dirinya tidak pernah memperhitungkan nilai materiilnya. Semahal apapun bahan itu, bakal dia pakai di karyanya. Inilah yang terkadang membuat perhiasan dan aksesoris buatannya berharga tinggi. “Tapi, kalau pelanggan biasanya tahu dengan mutu barang saya,” ujar Fiya yang kerap memakai batu kristal swaroszky, mutiara air tawar, dan batu-batu alam mahal lainnya ini pada produk buatannya. Sebagian besar bahan baku itu masih impor dari Austria dan beberapa negara lain.

Namun, tak sedikit konsumen yang kurang tahu kualitas barang, akan menawar produknya dengan harga rendah. Fiya juga tak memungkiri, ada beberapa pesaing yang membuat produk serupa dengannya tapi dengan batu-batu imitasi. Padahal, kalung atau gelang asli dan imitasinya bisa berbeda harga sampai 3-5 kali lipat. Tapi, kualitas barang palsu tidak terjamin. Contoh soal kristal swaroszky yang asli dari Austria dengan yang palsu dari China. Yang asli lebih bercahaya, tidak bisa tergores dan lebih kuat.

“Tapi kalau konsumen yang sudah menjadi pelanggan tetap, mereka sudah tahu kualitas barang saya. Jadi berani membeli berapapun meski harganya tinggi,” papar perempuan berdarah Padang-Makassar ini. Uniknya, untuk para pelanggan setianya Fiya sudah tahu selera masing-masing. Sehingga, cukup pelanggan bilang seperti ini: bros berbentuk oval, warna coklat, terbuat dari mutiara, permata, maka Fiya sudah bisa menebak keinginan sang pelangan, berikut harga yang cocok. “Tak cuma sekali pelangan menelpon, lalu suruh saya tonton acara infotainment di TV saat itu, dia bilang, saya mau kalung seperti yang dipakai artis itu. Bisa dibikinin khan?” ucapnya sambil tertawa kecil.

Saat ini, harga produk Fiya dibanderol dengan harga mulai dari Rp200 ribuan sampai Rp3 jutaan per untai. Makin besar perhiasan itu, makin banyak batu-batu mahal yang dipakai, makin rumit pembuatannya, maka harganya akan makin tinggi.

Dengan 6 karyawan tadi. Fiya mengaku bisa memproduksi 200 pieces perhiasan per bulan. Jumlah itu kebanyakan pesanan pasar lokal, sisanya sekitar 30 lusin diekspor ke pasar Spanyol dan Amerika Latin.

Setiap hari Fiya terus berkarya menciptakan karya yang baru. Maklumlah, saat ini produsen atau perajin seperti dirinya sudah banyak. Jika dirinya tidak kreatif, maka karyanya sudah ditiru rang lain. “Satu hal yang menjadi kunci sukses bisnis kerajinan tangan ini adalah rajin dan tekun. Kalau tidak sabar, maka produk yang dibuat kelihatan tidak cantik,” katanya memberi kiat.

Satu kiat lagi darinya adalah jadilah diri sendiri. Setiap orang punya ciri khas, sehingga pasti berbeda dengan karyawa orang lain. Konsumen akan bisa membedakan antara karya satu orang dengan karya lainnya.

Kini, modal awal sebesar Rp500 ribu telah berkembang biak. Sehingga bisa menghasilkan omset (di luar pameran) Rp30 juta setiap bulan. Namun, semua itu tak membuatnya berpuas diri. “Suatu saat saya ingin buka showroom sendiri di luar rumah. Tapi, karena pada dasarnya saya ini orang rumahan, menjadi ibu rumah tangga sambil mengurus suami dan mengawasi anak-anak yang sebenarnya sudah besar, rencana itu masih sebatas rencana saja. Karena untuk berbisnis ini saja bukan terpaksa, semuanya dilakukan karena hobi, enjoy dan fun. Kalau ada keuntungan, itu namanya rezeki dari Allah,” ucapnya mengakhiri perbincangan dengan DUIT! $ AGUSTAMAN

Baca Selengkapnya..

Gemericik Bisnis Air terjun Mini

Diposting oleh Agustaman | 13.27 | 0 komentar »

(Tulisan ini pernah saya tulis di majalah DUIT! edisi 03/Februari 2008)

Bersama sang suami, Rita Aprianti mewujudkan ide landscape mini air terjun dalam gentong yang mudah dipindah-pindah. Kreasinya sudah mendapatkan penghargaan dan melanglang buana ke mancanegara

Mendengarkan suara gemericik air terjun di dalam rumah atau ruangan kantor, boleh jadi kita akan terbuai dengan suasana alam yang membuat batin tenang. Bahkan, untuk mendapatkan suasana seperti air terjun aslinya, beberapa orang membuat air terjun buatan di rumah atau kantornya. Sayangnya, air terjun buatan tersebut susah dipindahkan bila suatu saat si empunya rumah atau kantor akan pindah tempat.
Pengalaman seperti itu pernah dirasakan oleh satu keluarga sahabat Rita Aprianti. Ceritanya, sang teman yang akan pindah rumah enggan meninggalkan landscape air terjun di taman rumahnya. “Mau ditinggal sayang. Kalau dibawa juga susah, pasti harus dihancurkan dulu karena sudah permanen,” kisah Rita, pemilik usaha Curug Gentong kepada DUIT!
Kesusahan sang teman membawa landscape air terjunnya tadi, ternyata menjadi berkah buat Rita. Dia mengaku justru menemukan ide bagaimana supaya landscape air terjun buatan bisa dibawa kemanapun kita mau tanpa harus membongkarnya dulu.
“Ide itu saya utarakan ke suami, Rery Endrico yang kebetulan punya bakat sebagai seniman. Kami kemudian mewujudkannya dalam bentuk landscape taman mini plus air terjunnya di dalam wadah terbuka berbentuk mangkuk gerabah dan mangkuk pot bunga,” papar Rita yang pada tahun 2003 memulai usaha dengan modal Rp5 juta.
Dari wadah terbuka, Rita dan suami kemudian mencoba membuatnya dalam wadah gentong yang dibelinya dari penjual tanaman. Gentong yang masih utuh kemudian satu sisi badannya dilubangi dengan alat khusus. Di dalam gentong itulah, Rico membuat landscape air terjun lengkap dengan tanaman plastik dan aksesoris lainnya. Untuk mengalirkan air terjun, Rico memakai mesin sirkulasi air. Keduanya lalu sepakat, produk tersebut menjadi trademark dan nama usaha mereka, “Curug Gentong.”
“Curug dalam bahasa Sunda itu berarti air terjun. Gentong jadi mediannya. Jadi, curug gentong berarti air terjun dalam gentong. Kami memang ingin menghadirkan suara gemericik air dalam rumah, untuk menenangkan batin pemiliknya,” kata Rita yang sebelum membuka usaha Curug Gentong sempat berjualan busana muslim dan kebutuhan rumah tangga.
Pada saat yang sama (2003) Pemkot Depok membuat pengumuman di beberapa media bahwa usaha rumahan yang berada di wilayah Depok bisa mendaftarkan usahanya ke Pemkot. Rita tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Meski produknya masih bisa dihitung dengan jari, dia tetap mendaftarkan usaha dan produknya ke kantor Pemkot Depok. “Saya ingat waktu itu mereka bilang, oh ini produk baru dan unik, oke silakan didaftarkan,” kenang ibu dua anak yang sudah menginjak remaja ini.
Tak hanya terdaftar sebagai usaha rumahan, Curug Gentong juga dimasukan sebagai mitra binaan Pemkot Depok. Bahkan, Pemkot membantu Rita untuk melegalisasi (mempatenkan) produknya. Sebagai mitra binaan, Curug Gentong diikutsertakan ke berbagai pameran yang difasilitasi Pemkot.
Dari situlah nama Curug Gentong mulai terdengar khalayak. “Tapi pesanan pertama justru datang dari teman-teman pengajian. Yang lain-lain mulai menyusul, seperti pesanan dari Dinas Koperasi dan UKM Depok 10 buah untuk kantor-kantor di Pemkot Depok,” jelas Rita.

Produknya Melanglang Buana
Ketika pesanan mulai banyak, Rita pun mulai menambah karyawan. Saat ini Rita mempekerjakan tiga orang karyawan di luar suaminya yang rela melepaskan status karyawan di perusahaan swasta dan kini bahu membahu bersama sang istri sebagai wiraswasta.
Pameran kecil dan besar juga diikutinya, seperti pameran yang diadakan Dekranasda Depok, Smes’co, Indonesia Expo, ICRA dan Inacraft. Bahkan, beberapa media menyambangi rumahnya untuk meliput usahanya. Hal ini membuat produknya makin dikenal. Beberapa selebritis seperti Tukul dan Mila Karmila adalah beberapa selebritis yang mengoleksi produk Curug Gentong. Sebagian produknya juga sudah melanglang buana ke mancanegara seperti Malaysia, Singapura, New Zealand, Filipina dan Jepang. Para pembeli asing ini sebagian membelinya ketika pameran dan sebagian lagi lewat orang lain.
“Kami memang menyasar pasar menengah atas,” ujar Rita yang mematok harga mulai dari Rp150 ribu-Rp700 ribu (curug gentong dan media terbuka).
Produk Curug Gentong yang pernah mendapat penghargaan dari pemkot Depok dan Juara III Kreatifitas Terbaik se-Jabar (2006) ini, jelas Rita, kini lebih banyak mengerjakan produk pesanan. Dalam sebulan, Curug Gentong bisa memproduksi sebanyak 50 item per bulan untuk memenuhi pesanan dari berbagai daerah di Indonesia. $ AGUSTAMAN

Baca Selengkapnya..

Celana Hawaii Buatan Tangerang

Diposting oleh Agustaman | 20.47 | 17 komentar »

(tulisan ini pernah saya tulis di majalah DUIT! edisi 06/III/Juni 2008)


Sejak masa pacaran, pasangan Lazim-Siti Fatimah memproduksi aneka celana Hawaii (celana pendek) dan pakaian anak, remaja dan dewasa untuk para pedagang grosir di Tanah Abang, Cipulir dan Jatinegara. Omsetnya sudah Rp80 juta per bulan

Kisah pasangan Lazim-Siti Fatimah nampaknya layak ditiru pasangan lain. Bayangkan, sejak masa pacaran keduanya sudah merintis jalan menjadi entrepreneur. Kini, pasangan yang sudah dikaruniai satu anak ini makin berkibar dengan usaha konveksinya. Dari usaha rumahan yang dilakukannya, kedua kini menjadi pemasok untuk para pedagang di pusat-pusat grosir pakaian di Jakarta.

Kisahnya dimulai ketika medio1997 Indonesia dilanda krisis moneter. Tak sedikit para pekerja yang kehilangan pekerjaannya karena terkena PHK. Sadar akan resiko yang mungkin menimpanya kelak, Lazim yang waktu itu masih kuliah di semester 3 jurusan ekonomi di Universitas Budi Luhur, Jakarta, terpikir untuk membuat usaha sendiri. “Terpikirnya kami mau bikin konveksi, memproduksi celana pendek karena waktu itu calon mertua punya kios yang jual celana di pasar Cipulir. Hitung-hitung ini multi nyambi, nyambi kuliah, nyambi pacaran dan buka lapangan pekerjaan,” kisah Lazim kepada DUIT!

Maka, bermodal uang Rp300 ribu hasil penjualan kalung emas milik sang pacar, Siti, kaduanya sepakat membeli satu unit mesin jahit seharga Rp120 ribu dan mesin obras bekas seharga Rp70 ribu. Sisanya, dibelikan bahan kain dan bahan baku lainnya di Tanah Abang. Setelah merekrut satu tetangganya seorang penjahit., mereka mulai memproduksi celana pendek yang mereka sebut celana Hawaii karena motifnya yang warna-warni. Waktu itu produksinya masih di rumah Siti di kawasan Pondok Aren, Tangerang.

Produksi perdana sebanyak 3 kodi awalnya hanya dipasarkan ke para tetangga. Sebagian juga dititipkan ke toko milik ibunda Siti. Tak dinyana, produksinya disukai konsumen. Bahkan, tiga bulan kemudian produksinya mulai ditambah. Penjahit juga tambah satu orang. “Sejak itu saya yakin produk kami bisa lebih laku. Maka, saya coba tawarkan ke pedagang di pusat grosir Tanah Abang. Alhamdulillah, ada satu pedagang yang memesan 9,5 kodi. Setelah habis, dia pesan lagi 20 kodi katanya mau dikirim ke daerah. Sambil pesan, dia kasih uang untuk saya pakai beli bahan. Sebagian keuntungan itu saya putar lagi untuk modal usaha,” papar Siti.

Pasangan yang menikah pada 2006 ini bahu membahu membesarkan usaha. Tak hanya celana Hawaii, tapi juga pakaian anak, remaja dan dewasa juga diproduksi. Dengan berkembangnya usaha, saat ini produknya sudah ada di pusat-pusat grosir pakaian di Jakarta, seperti Pasar Cipulir, Tanah Abang, Jatinegara, dan Pusat Grosir Cililitan. Oleh para pedagang itu, sebagian produk Siti-Lazim didistribusikan ke daerah. “Kami pun sudah menerima orderan di rumah dari daerah lewat telepon dan kami pun terbuka untuk kerjasama dengan siapapun,” terang Lazim yang kini sudah punya 25 karyawan ini.

Selain sudah punya karaywan yang jumlahnya lumayan tadi, kini kedua pasangan ini sudah mempunyai 2 unit mesin potong, 2 unit mesin obras, 1 unit mesin karetan, dan 25 unit mesin jahit, 1 unit mesin bordir serta beberapa desain peralatan lain. Dengan semua itu, dalam seminggu mereka kini sudah bisa memproduksi sekitar 250 kodi. Omsetnya diperkirakan mencapai Rp80 juta per bulan.

Kini, setelah menikah dan mempunyai anak, mereka memindahkan produksinya di rumah sendiri di komplek perumahan Graha Bintaro, Tangerang untuk tempat pemotongan kain dan satu rumah yang dikontrak tak jauh dari lokasi tersebut untuk penjahitan.. “Rumah yang kami tempati ini juga hasil usaha konveksi ini lho,” ujar Lazim diiyakan oleh istrinya.

Karena Lazim bekerja sebagai tenaga marketing sebuah bank swasta, Siti lah yang selama ini lebih banyak berperan di bagian produksi. “Alhamdulillah, meski ini awalnya pekerjaan sambilan, tapi sekarang bisa jadi penopang utama ekonomi keluarga dan membuka lapangan pekerjaan buat sebagian orang,” kata Lazim yang akan memasang merek sendiri: “Shaety”, kependekan dari nama usaha mereka CV Shaety Multiartha Permana. “Shae itu baik dalam bahasa Jawa. Ti, diambil dari nama istri. Multiartha bercita-cita usaha ini menghasilkan uang. Sedangkan Permana, nama anak laki-laki kami,” terang pria kelahiran Cilacap, 12 September 1978 ini tentang filosofi nama usahanya. $ AGUSTAMAN

Baca Selengkapnya..

(Tulisan ini pernah saya tulis di majalah DUIT! edisi 06/I/Oktober 2006)

Cukup berkantor di rumah dengan seperangkat komputer dan jaringan internet, Dini Rahma Shanti bisa menjalankan bisnis MLM Bel’Air dengan sukses

Hari belum begitu siang. Suara gonggongan anjing dan celotehan burung kakak tua yang ada di rumah bernuansa asri tersebut nampaknya tak membuat si empunya rumah terganggu. Di beranda samping rumah, Dini Rahma Shanti, si empunya rumah nampak asyik berkutat dengan laptop-nya. Matanya memelototi email-email yang masuk ke situsnya. Sebagian email datang dari orang-orang yang ingin tahu bisnis multi level marketing (MLM) Bel’Air, sebagian lagi member d’BC (Business Chain) Indonesia- jaringan Bel’Air yang didirikannya sejak 2004 lalu.

“Saya merasa, dengan memiliki bisnis sendiri, apalagi bisa dilakukan dari rumah sambil momong anak, merupakan anugerah Tuhan yang sangat besar. Belum lagi kalau mau dihitung dengan penghasilan yang jauh lebih besar ketimbang bekerja kantoran. Dengan bekerja sendiri dari rumah, saya merasa lebih aman dari aksi kriminal di jalan dan kemacetan yang luar biasa. Dan yang penting, bebas dari tekanan atasan yang bikin stress,” jelas alumnus Warcester Polytechnic Institute Massachusetts, AS

Dengan latar belakang teknik elektro, pekerjaan perempuan kelahiran 1972 ini memang tak jauh-jauh dari komputer. Dia pernah bekerja sebagai engineering officer di sebuah perusahaan telekomunikasi asing yang berkantor di Bekasi. Tak lama setelah itu, pada posisi yang sama, dia pindah ke perusahaan lain. Tapi, pengetahuannya soal komputer dan internet marketing justru didapatnya ketika dia harus berhenti bekerja karena kelahiran anaknya. Ketika kembali bekerja, lagi-lagi Dini pun berhadapan dengan pekerjaan berbau informasi teknologi (IT).

Kesenangannya pada dunia IT (internet) menjadikan Dini sering berinteraksi dengan banyak orang. Berbagai tema diskusi yang ada di berbagai milis dia ikuti, terutama soal ibu dan anak. Malah pada 2001 silam, secara “one (wo)man show” dia membuat situs www.dunia-ibu.org. Situs ini mendapat sambutan luar biasa. Dalam suatu diskusi di situs tersebut, Dini bercerita tentang keadaan anak sulungnya yang tak kunjung sembuh terkena penyakit batuk. Seorang anggota diskusi menyarankan dia memakai Bel’Air, produk aroma terapi yang dipasarkan dengan sistem networking. Setelah mencoba memakainya dan berhasil, Dini lalu membagi pengalamannya ke ibu-ibu anggota milis lainnya di internet.

Jadi Bos Untuk Diri Sendiri

Di penghujung tahun 2003, lewat bantuan Dian Paham, teman milis yang akhirnya menjadi up line, Dini memutuskan untuk menjadi distributor MLM Bel’Air. Hanya saja, bisnis MLM yang sebenarnya dijalankan secara offline ini, oleh Dini dilakukan dengan cara on line lewat internet. “Saya terilhami oleh internet marketing yang dijalankan Anne Ahira (dara asal Bandung yang sukses menjalankan bisnisnya lewat internet, red.)” kata Dini yang sempat bergabung dengan Elite Team-nya Anne Ahira. “Lagi pula memasarkan lewat internet kerjanya relatif sederhana. Paling-paling hanya biaya akses internet selama 1-2 jam/hari.”

Hanya dalam kurun waktu 4 bulan menjalani bisnis itu, Dini mulai mendapatkan tambahan finansial di luar gaji pokoknya sebagai karyawan perusahaan IT. “ Terus terang, saya punya pengalaman kurang enak dengan MLM. Namun karena saya merasa bahwa Bel’Air ini berbeda dengan MLM kebanyakan, dimana 99% pasar saya dapat dari internet, saya makin yakin ini bisnis yang sangat bagus,” ujar ibu dari Wahyu Farandi (9) dan Raissa (6) ini.

Kini, seiring dengan tambahan penghasilan yang sudah mencapai angka puluhan juta, Dini yang kini sudah di posisi marquis ( jenjang tertinggi di Bel’Air) tak lagi bekerja di kantoran seperti dulu. Kini, tak ada lagi perintah atasan, karena bos-nya dirinya sendiri. Dengan bekerja di rumah lewat fasilitas komputer dan internet, dirinya bisa punya waktu banyak mendampingi anak-anaknya.

Melalui d'BC Indonesia, Dini yang kini punya sekitar 5 kaki menjalankan dan mengembangkan jaringannya secara on line. “Dari semua kaki saya, hampir semuanya berkomunikasi lewat internet atau telepon. Sedikit yang bisa bertemu langsung. Tapi untuk suplai produk, saya selalu mengirimkan mereka dari Jakarta lewat jasa kurir milik kakak saya,” papar Dini yang menerapkan pola cash on delivery.

Lewat situsnya pula, Dini bisa memberikan sejumlah informasi, petunjuk, dan tips-tips secara lebih detail kepada calon distributor yang tertarik bisnis MLM ini. Bahkan, jika ada yang bergabung bersama d'BC Indonesia, Dini siap memberikan pelatihan gratis selama 35 jam (selama 7 minggu) tentang mekanisme bisnis dan cara melakukan pemasaran, secara on line. “Semua pelatihan ini dikemas dalam bentuk email dan file presentasi yang mudah dimengerti. Semuanya akan menjawab segala macam pertanyaan dan penasaran orang-orang yang membuka web site saya,” tandas Dini mantap. $ AGUSTAMAN



Baca Selengkapnya..