SEKAPUR SIRIH
Bekerja dari pagi sampai petang di kantor? Itu sudah kuno, karena sekarang banyak orang yang mengerjakan bisnis cukup dari rumah tanpa harus repot-repot menembus kemacetan lalu lintas ke kantor. Cukup dengan seperangkat komputer, secangkir kopi dan segudang keahlian, Anda bisa menjadi juragan tanpa kantor.
: : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : : BISNIS RUMAHAN : :

Bisnis Rumahan

(Tulisan ini pernah saya tulis di majalah DUIT! edisi 02/Februari 2009)

Dua kakak beradik, Icha dan Dina memproduksi sepatu kanvas lukis. Produk bisnis rumahan ini kebanyakan dipasarkan lewat online di blog www.sepatukanvaslukis.blogspotcom dan www.sepatulukis.com

Kuliah di Bandung sementara rumah di Jakarta, agaknya tak menghalangi Nerissa Arviana (Icha) terus menekuni bisnisnya. Maklum, dara yang masih kuliah di School of Business and Management ITB ini belum setahun membangun bisnisnya, memproduksi sepatu kanvas lukis. Di tahun pertama usahanya itu, Icha mengaku dirinya harus mengurusi customer follow up order, melakukan transaksi, dan mengurus keuangan. Sedangkan Nabila Irvani (Dina), partner bisnis yang juga adik kandungnya kebagian tugas mengurusi tampilan blog dan website, desain produk, dan alat-alat promosi, seperti flyer, spanduk.

“Kebetulan saat ini usaha saya sedang banyak pesanan, khususnya dari luar Jakarta. Ada pesanan dari Malang, Surabaya, Aceh, Medan, Batam, Samarinda, Makasar dan lain-lain. Ada juga dari Papua. Soalnya di sana kami belum punya akses jual langsung, makanya kebanyakan memesan lewat internet,” papar dara kelahiran 24 Juli 1988 ini kepada DUIT!.

Menjual lewat internet memang cara yang dipilih Icha sejak awal. Dari semula, anak pasangan Irvan Jusuf (pengusaha) dan Chandra Nursida (aktif di bisnis MLM dan asuransi) ini ingin mengikuti jejak kedua orang tuanya, punya bisnis sendiri. “Saya ingin bikin produk yang berbeda dengan yang lain, sesuatu yang unik. Kebetulan, adik saya Dina jago banget gambar. Lalu, kenapa tidak kami memproduksi sepatu kanvas lukis saja?,” kata Icha lagi.

Sebagai uji coba, mereka membuat satu pasang produk dulu. Sepatu yang mereka beli di sebuah toko sepatu itu lalu dilukis memakai cat acrylic. Icha lalu membawanya ke kampus. Respon teman-temannya cukup bagus. Beberapa teman minta dibuatkan dengan desain yang mereka pesan sendiri. Dari sinilah Icha mulai serius memfokuskan bisnisnya ke produk alas kaki ini.

Bermodal Rp4 jutaan, yang antara lain untuk membeli puluhan pasang sepatu kanvas putih polos, alat-alat lukis dan merekrut satu pelukis, dia mulai memproduksi sepatu kanvas lukis ini di rumahnya, kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur.

Untuk memasarkannya, Icha memanfaatkan internet. Lewat blog-nya yang diberi nama www.sepatukanvaslukis.blogspot.com Icha mulai mempromosikan produk ke seantero jagad maya. “Kenapa saya pakai sarana internet? Selain murah investasinya, marketnya lebih luas ketimbang jual langsung,” tuturnya.

Tak dinyana, di dunia maya ini pun respon konsumen luar biasa. Pemasannya tak hanya datang dari Jabodetabek, tapi juga dari Jawa bagian Timur, Sumatera, Sulawesi dan Papua. Pemesanan biasanya dalam partai besar.

Pengiriman Sempat Diragukan

Menjual lewat internet, dimana penjual dan pembeli tak bertemu secara fisik, tentu punya kendala. “Kendala utama adalah soal kepercayaan. Banyak orang bertanya, barang yang dipesan dikirim nggak ya? Barangnya sesuai dengan yang dipesan nggak ya? Alhamdulillah, kami bisa meyakinkan mereka karena kami selalu berusaha menjaga kualitas dan ketepatan waktu pengiriman,” kata Icha yang memakai jasa perusahaan kurir lokal ternama untuk pengiriman.

“Untuk saling menjaga kepercayaan itu juga, biasanya kami minta uang panjar dulu 50%, terutama untuk konsumen baru,” tambah anak kedua dari lima bersaudara ini.
Di luar pemasaran lewat internet, Icha juga sesekali melakukan penjualan langsung, khususnya ke teman-teman. Rencananya, dia ingin juga menawarkan produknya lewat pameran dan membuka toko di rumah. Dia juga segera meluncurkan situs produknya di www.sepatulukis.com.

Dibantu 7 tenaga lukis yang dia rekrut dari warga sekitar rumahnya, sampai saat ini Icha sudah melepas 250 pasang sepatu ke pemesan. Dalam seminggu, produk buatannya bisa mencapai 20-an pasang atau sekitar 80-100 pasang/bulan. Omzetnya diperkirakan sudah mencapai angkar Rp18 juta-Rp20 juta sebulan. Produknya sendiri dilepas dengan harga antara Rp110 ribu-Rp130 ribu, tergantung ukuran dan desainnya. Semakin rumit desain, tentu semakin mahal. Ukuran yang disediakan mulai dari nomor 31 hingga nomor 43. Oh ya, selain menawarkan dengan desain yang dibuatnya, Icha juga mempersilakan konsumennya memesan dengan desain yang mereka buat sendiri.

“Alhamdulillah, modal awal Rp4 jutaan di Juli 2008 lalu hasil pinjaman dari orang tua, sudah balik modal. Sekarang tinggal putar-putar uang dari keuntungan saja, belum mau pinjam dari pihak ketiga atau bank. Barangkali kalau usaha ini tambah membesar, bolehlah cari dana dari bank,” katanya sambil tersenyum ramah.

Di luar sepatu kanvas lukis funky buatannya, dua bersaudari ini berniat memproduksi kaos dan tas lukis. “Hitung-hitung bisnis ini mempraktekan teori yang saya dapat di bangku kuliah. Jadi, selepas kuliah saya tak perlu mencari kerja, tapi justru mencari pekerja lagi,” kata Icha yakin. Semoga. $ AGUSTAMAN

Baca Selengkapnya..

Peluang Bisnis yang Halal dan Berkah

Diposting oleh Agustaman | 12.00 | 5 komentar »

(Artikel ini pernah saya tulis di majalah DUIT! edisi 02/III/Februari 2008)

Lautan Lestari (Lestari Books) menawarkan peluang menjadi agen pemasaran kitab Al Qur'an Tajwid Berwarna. Produk yang di mancanegara telah terjual jutaan eksemplar ini merupakan karya inovatif dan fenomenal karena memudahkan setiap muslim membacanya dengan baik dan benar.

Buat umat muslim, membaca kitab suci Al Qur'an hukumnya adalah wajib. Menurut para ulama, membaca Qur'an dengan niat iklas dan maksud baik adalah suatu ibadah yang karenanya seorang muslim mendapatkan pahala. Namun, seorang muslim tak hanya dituntut membaca Qur'an saja. Dia juga wajib mengetahui ketentuan-ketentuan tajwid (Tajwidul Qur'an yang didefinisikan sebagai :”memberikan kepada huruf akan hak-hak dan tertibnya”) guna melafazhkan ayat-ayat Al Qur'an sesuai dengan aturan bacaan yang semestinya. Sehingga kita dapat membaca Al Qur'an dengan baik dan benar.
Saat ini, sudah banyak produk atau alat peraga untuk memudahkan orang membaca Qur'an dengan baik dan benar beredar di pasaran, misalnya produk Al Qur'an digital. Ini belum termasuk jutaan mushaf Al Qur'an yang dicetak setiap tahunnya dan disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia.
Belakangan juga hadir Al-Qur'an ku, suatu mushaf Al Qur'an dengan metode inovatif sebagai penuntun membaca Qur'an dengan baik dan benar. Inovatif, karena dibuat dengan tuntunan tajwid yang dipermudah menggunakan kode blok warna, dilengkapi dengan penjelasan ketentuan-ketentuan tajwid dalam bahasa Indonesia (huruf latin) yang mudah dipahami.
Kode-kode blok warna yang ditampilkan dalam mushaf Al Qur'an ini ditampilkan supaya mempermudah pembaca agar lebih memperhatikan tekanan, fonetik, irama serta cara membaca Al Qur'an dengan semestinya (misalnya mendengung, menyengau, atau memanatul). Pasalnya, ini seringkali diabaikan oleh pembaca yang kurang mengerti, terutama para pemula. Dalam Al Qur'an tersebut terdapat tujuh warna tertentu untuk mengingatkan pembaca tentang lafadz tertentu. Blok huruf biru muda misalnya, untuk menandakan ketentuan ikhfa, coklat tua (qolqolah), hijau muda (idgham Bighunnah), dan sebagainya.
Mushaf Al Qur'an Tajwid Berwarna ini (ukuran dimensi 18,5 x 13 x 4,5 cm) sebenarnya sudah diluncurkan di Indonesia sejak 30 Juli 2006, bersamaan dengan kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional ke XXI di Kendari, Sulawesi Tenggara. Adalah Lautan Lestari (Lestari Books) yang mendapatkan hak sebagai distributor tunggal untuk wilayah pemasaran Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei.
“Terciptanya penerbitan mushaf Al Qur'an dengan metode pemberian kode warna yang diblok pada huruf ayat-ayat Qur'an ini merupakan karya inovatif tiga bersaudara, Abdus Sami, Abdul Naeem dan Abdul Moin dari India yang memang telah lama bergelut dalam bidang penerbitan buku-buku Islam,” papar Sumarsono, General Manager Lestari Books kepada DUIT!


Menurut Sumarsono, produk mereka bertiga diilhami dari aturan lampu lalu lintas yang bersifat universal, dimana warna merah berarti harus harus berhenti, warna kuning bersiap jalan dan hijau, silakan jalan. Sistem traffic light itulah yang kemudian diadopsi ke dalam tuntunan bagi kemudahan umat Islam membaca Al Qur'an dengan benar dan baik. “Setelah melalui proses pemikiran panjang, akhirnya pada 4 Januari 2002, karya inovatif ini dipublikasikan pada umat Islam ke seluruh dunia,”jelas Sumarsono lagi.
Tak hanya Al Qur'an tajwid berwarna yang dipasarkan Lestari Books, tapi juga Juz 'Amma dengan tajwid kode blok warna, dilengkapi terjemahan. “Juz 'Amma ku” ini berukuran dimensi 18,6 x 24,6 cm dengan kertas art paper. Bahkan, direncanakan mushaf Al Qur'an yang akan dicetak akan dilengkapi terjemahan dengan huruf latin.

Tawarkan Keagenan
Lestari Books awalnya bergerak pada pengadaan buku-buku anak, seperti pendidikan moral, cerita, aktifitas dan kegiatan untuk anak pra sekolah. Namun, seiring berjalannya waktu buku-buku yang dipasarkan tersebut tak bisa bersaing dengan produk sejenis yang pemainnya juga tidak sedikit. Hingga pada suatu saat, sang pemilik, Dalpat Mirchandani mengubah orientasinya dengan memasarkan produk buku-buku Islam, termasuk Al Qur'an tajwid berwarna buatan India.
Sebagai pemegang hak cipta untuk wilayah Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei, Lestari Books sampai saat ini sudah berhasil memasarkan rata-rata limaribu eksemplar setiap bulannya lewat sistem direct selling. “Direct selling artinya kami menawarkan langsung ke konsumen dan mereka langsung membayar, tak ada konsinyasi. Sampai sekarang, kami tidak menaruh produk ini di toko-toko buku. Mushaf Al Qur'an tajwid berwarna ini justru banyak dipasarkan oleh ibu-ibu pengajian,” papar Sumarsono.
Soal pemasaran oleh ibu-ibu yang kebanyakan tergabung dalam kelompok pengajian ini, Sumarsono punya cerita. “Secara resmi Qur'an ini memang diluncurkan pada MTQ di Kendari tahun 2006. Tapi kami mulai memasarkan secara intensif pada Februari 2007 lewat ajang pameran Islamic Book Fair di Jakarta. Banyak orang tertarik dan membeli, bahkan ada satu orang ibu dari kelompok pengajian datang sendiri ke kantor yang waktu itu masih di Jl. Talang Betutu. Dia membeli lebih dari satu eksemplar, katanya buat dijual kembali,” kisah pria 62 tahun ini.
Si ibu tadi kembali lagi untuk membeli produk sejenis karena jualannya sudah habis. Rupanya, langkah sang ibu tadi diikuti oleh ibu-ibu pengajian lainnya. Begitu seterusnya, sehingga tercetuslah ide menawarkan pola keagenan di seluruh Indonesia terutama untuk melakukan direct selling.
“Kami menawarkan kepada semua orang untuk menjadi agen pemasaran produk tersebut. Sedangkan sistem yang kami kehendaki agar perputaran cash flow perusahaan secara tepat dan sehat, kami mengharapkan pembayaran cash dimuka dengan pemberian diskon sesuai pengambilan yang dilakukan,” ujar Sumarsono sambil mengatakan pihaknya juga rajin menawarkan produknya lewat ajang pameran buku Islam.
Keagenan itu sendiri dibagi tiga, yakni agen platinum, agen gold dan agen silver. Masing-masing kriteria agen tadi punya hak dan kewajiban yang hampir sama. Perbedaannya hanya pada hak mendapatkan diskon, jumlah banner dan flyer yang didapat dan pada kewajiban pengambilan produk (lihat boks di bawah).
Menurut Sumarsono, dengan angka 5.000 ekslempar Al Qur'an tajwid berwarna terjual setiap bulan, pihaknya yakin produk ini masih punya pangsa pasar yang masih luas. Ditambah lagi fakta bahwa penduduk Indonesia mayoritas muslim, dan sebagian besar masih belum “baik dan benar” dalam membaca ayat-ayat suci Qur'an, produk mushaf Al Qur'an tajwid berwarna ini bisa menjadi peluang bisnis yang halal dan berkah. $ AGUSTAMAN

Baca Selengkapnya..

Biar Anak Tidak Malas Pakai Handuk

Diposting oleh Agustaman | 14.19 | 1 komentar »

(Tulisan ini pernah saya tulis di majalah DUIT edisi 12/III/Desember 2009)

Sebelum menciptakan baju handuk, Miswati 'Iwa” Dusni sebenarnya sudah memproduksi sprei, mukena, kaos dan handuk aplikasi dan bordir. Kini produk baju handuk jadi primadonanya.

Sudah kesekian kalinya selepas mandi Bobby (10) malas memakai handuknya. Tanpa malu dilihat kakak dan dua adiknya, bocah bertubuh gempal ini berjalan santai dari kamar mandi ke kamar tidurnya tanpa handuk menutupi tubuhnya. Terang saja kondisi ini membuat “gerah” sang ibu, Miswati Dusni. Padahal, kata perempuan yang biasa disapa Iwa ini dirinya dibiasakan disiplin oleh orang tuanya. Ia ingin anaknya juga melakukan hal yang sama.

Berawal dari situlah Iwa berkreasi menciptakan handuk yang dijahit menyerupai baju, lalu diberi lubang untuk tempat memasukkan kepala. Di bagian depan, handuk diberi aplikasi kain serta tambahan sulam bordir. Tujuannya, supaya anaknya tidak malas lagi memakai handuk sehabis mandi. Kreasinya, diakui Iwa tersinspirasi oleh baju tokoh Batman yang pernah dia pakai sewaktu kecil dulu.

Kreasinya ternyata tak hanya disukai keempat anaknya, tapi juga beberapa orang pengunjung di Galeri UKM Cilandak Town Square (Citos), Jakarta. Sebelum menciptakan baju handuk (Januari 2008), Iwa memang sudah membuka stand kecil di Citos sejak 2006 silam yang disewanya seharga Rp2 juta. Di Citos awalnya Iwa menjajakan handuk dengan motif aplikasi bordir, sprei, mukena bordir dan sulam serta kaos aplikasi. Ada juga handuk model kimono anak untuk menutupi badan sehabis berenang.

“Nah, waktu saya taruh kreasi baru baju handuk, ternyata banyak yang suka dan memesan dengan motif aplikasi yang mereka mau. Ada juga yang minta baju handuk pakai tutup kepala. Ternyata yang pakai tutup kepala ini paling laku. Makanya, saya banyak memproduksi baju handuk pakai tutup kepala,” cerita perempuan yang memulai bisnis rumahannya pasca krisis moneter.

Baju handuk buatannya semula dia produksi untuk kalangan anak-anak saja. Tapi ternyata banyak orang-orang dewasa tertarik memilikinya. Tentu saja untuk ukuran dewasa, Iwa membutuhkan lebih dari satu bahan handuk. Untuk pasokan bahan handuknya, dia membelinya dari pedagang grosir di kawasan Mangga Dua, Jakarta.

Awalnya, Iwa hanya membuat baju handuk dengan satu bahan handuk. Tapi lantaran banyak konsumennya di Jakarta mengeluhkan kualitas kain handuk, akhirnya ia membuat baju handuk dengan kualitas berbeda. Kualitas handuk yang lebih lembut dia pasarkan untuk wilayah Jakarta dan untuk pasar daerah yang memilih harga lebih murah, Iwa membuat kualitas yang tidak jauh beda.

Harga jual yang dipatok bervariasi, mulai dari Rp90 ribu sampai Rp125 ribu (baju handuk tanpa topi) dan Rp125 ribu sampai Rp250 ribu (baju handuk pakai topi). Iwa menjualnya secara eceran dan grosiran. Untuk grosiran, dia memberi diskon 25% dari harga jual kepada pembelinya. Pembelian grosir minimal satu lusin.

“Saya sih maunya produk ini bisa terjangkau kelas menengah bawah. Tapi agak susah kalau saya patok harga dibawah Rp50 ribu karena beli bahan bakunya bisa lebih dari segitu,” papar alumnus Teknik Sipil ISTN, Jakarta angkatan 1983 sembari mengatakan banyak pelanggannya, terutama ibu-ibu yang memesan produk baju handuk untuk dijual kembali. “Tapi saat ini belum bisa dipenuhi semuanya, karena tenaga kerjanya belum banyak,” sambung Iwa yang sudah banyak memiliki pelanggan dari luar Jakarta, seperti Kudus, Purwerejo, Surabaya, Samarinda dan Makasar.

Saat ini Iwa mempekerjakan dua karyawan pria untuk mengerjakan bordir. Pekerjaan jahitan, dia serahkan ke temannya yang tukang jahit, sementara untuk aplikasi (dengan kain katun, dijahit tusuk feston) masih dikerjakan Iwa sendiri. Padahal dulunya dia mengaku tak suka dengan jarum dan benang jahit. “Tapi begitu terjun ke usaha ini, mau nggak mau harus belajar sendiri cara menjahit baju karena terkadang saya tidak puas melihat hasil jahitan orang lain,” ujarnya sembari tertawa.

Dua karyawan bordir yang berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat tadi dibayar dengan cara borongan. Mereka, kata Iwa, bisa menerima upah bersih Rp300 ribu-Rp400 ribu per minggu, karena makan dan tempat tinggal sudah disediakan Iwa di rumahnya, kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

Tak Gentar Produk Ditiru

Dengan tiga tenaga kerja (termasuk dirinya) Iwa bisa memproduksi 20 potong baju handuk per hari. Omzetnya diperkirakan antara Rp10 juta sampai Rp15 juta per bulan dengan keuntungan bersih antara 35% sampai 40%.

“Maunya tambah satu karyawan untuk aplikasi, tapi belum dapat orangnya. Karena mulai dari melukis sampai menjahit adalah pekerjaan tangan yang butuh keterampilan tersendiri,” terang Iwa yang menamai usahanya dengan nama “Rakita”.

Bagaimana dengan produk di luar baju handuk? Menurut Iwea, karena saat ini pesanan lebih banyak ke baju handuk, dia akan fokus dulu di produk tersebut. Sedangkan produk yang lain, meski masih diproduksi jumlahnya tak sebanyak baju handuk. Produk mukena dengan aplikasi dan bordir misalnya, jumlahnya paling sedikit karena penjualan produk ini biasanya musimam alias tidak setiap hari. Harganya pun tidak murah, Rp175 ribu sampai Rp225 ribu untuk mukena anak dan Rp250 ribu-Rp700 ribu buat dewasa.

“Modal saya juga belum banyak. Dulu waktu pertama kali memulai modalnya hanya Rp4 juta di luar sewa tempat di Citos. Dari keuntungan awal tadi diputar terus sampai sekarang termasuk untuk membeli dua mesin jahit bordir. Tidak ada dana dari pihak ketiga,” papar perempuan kelahiran Bukittinggi 44 tahun lalu ini.

Soal produknya yang mudah ditiru orang, tak membuatnya khawatir. Dengan kreativitas dan kualitas bordir yang bagus, ia yakin produknya masih jauh lebih berkualitas ketimbang penirunya.

Iwa sendiri awalnya adalah profesional di sebuah perusahaan konsultan kontraktor yang dibangun bersama teman-teman kuliahnya selepas lulus dari ISTN. Karena kelahiran anaknya, Iwa akhirnya menundurkan diri dari perusahaan tersebut.

Pasca melahirkan, Iwa membuka sendiri usaha desain interior. Sayang, badai krisis moneter 1998 menghempaskan usahanya. Iwa dibantu sang suami mulai bangkit lagi tahun 2002 dengan berdagang pakaian. Dari usaha inilah Iwa mulai berkreasi menciptakan produk fashion lainnya, mulai dari kaos, mukena sampai handuk aplikasi/bordir. Dan kini baju handuk menjadi promadona produknya.

“Pada pemeran Nova Fair akhir November lalu, baju handuk saya banyak terjual. Semoga rezeki itu tambah lagi di penjualan-penjualan berikutnya,” harap Iwa. Ya, semoga harapan itu terkabul. $ AGUSTAMAN

Baca Selengkapnya..

(Tulisan ini pernah saya tulis di majalah DUIT! edisi 11/November 2008)

BOOK ADVISOR PELANGI MIZAN
Pelangi Mizan Publisher, penerbit buku dari Bandung menawarkan peluang menjadi distributor bukunya (book advisor). Penghasilannya bisa jutaan rupiah per bulan

Buku adalah gudang ilmu, membaca adalah kuncinya. Buku adalah jendela dunia. Pepatah ini tentu tak asing di telinga kita. Lewat buku kita bisa mengetahui sisi lain dari dunia di luar kita. Membuat kita bisa mengetahui apa yang sebelumnya tidak kita ketahui.
Sayangnya minat baca orang Indonesia terbilang rendah dibanding orang-orang Asia lainnya. Data UNDP beberapa tahun yang lalu menunjukan skor minat baca orang Indonesia ternyata masih dibawah Thailand bahkan Filipina. Salah satu faktor bisa jadi karena harga buku di Indonesia yang relatif mahal.

Rendahnya minat baca tadi dan mahalnya harga buku nampaknya menjadi dua hal yang dipakai penerbit Pelangi Mizan Publisher untuk memasarkan buku terbitannya. Sebagai bagian dari anak bangsa, penerbit dari Bandung ini ingin masyarakat Indonesia gemar membaca. Namun, dengan buku yang berharga premium, dari Rp1 juta sampai Rp3 jutaan, bagaimana anak usaha grup Mizan ini bisa menjual buku-bukunya?

“Buku kami memang berharga premium. Kalau buku seharga ini disimpan di toko buku nggak akan ada orang beli. Belum apa-apa mereka takut, karena begitu banyak buku yang jauh lebih murah ditawarkan di toko buku. Dan jarang orang bawa uang segitu ke toko buku. Kalaupun bawa (uang), mereka secara mental tidak siap mengeluarkan uang untuk beli buku semahal itu,” jawab Irfan Amalee, CEO Pelangi Mizan kepada DUIT!



Soal alasan mengapa harga bukunya terbilang mahal, Irfan berkilah karena bukunya mengandun konsep yang “Harus Dijelaskan”. “Buku kami bukan buku bacaan biasa, yang dibaca, dimengerti setelah itu disimpan, selesai. Tapi merupakan buku referensial yang orang harus mengerti konsepnya, benefitnya, lalu mereka bisa gunakan sebagai referensi yang timeless. tidak sekali baca selesai. agar calon pembeli faham,” kata pria lulusan IAIN ini.
Maka, sambungnya, harus ada proses penjelasan dari para distributor Mizan atau yang disebut book advisor. Setelah si calon konsumen faham, maka dia akan menjadi yakin mengapa dia harus membeli buku itu dengan harga premium.

Dengan visi membuat buku untuk long life learning program, Pelangi menjual buku dalam satu unit yang terdiri dari rangkaian berseri berjumlah 12-24 buku, dilengkapi dengan CD dan sejumlah permainan. Isi bukunya didasarkan kebutuhan orangtua dan anak untuk menciptakan keluarga damai dan bahagia, seperti Ensiklopedi Bocah Muslim, I Love My Quran, Nabiku Idolaku, Halo Balita dan Cerita Binatang. Sekarang baru tersedia 8 judul. Satu judul ada yang terdiri dari 15 jilid, ada juga yang 26 jilid. Target market buku aini adalah keluarga muslim muda yang sekarang segmen itu sedang tumbuh menjadi kelas terpelajar, secara konomi mulai mapan, uang punya, pengetahuan ada.

Penghasilan BA Jutaan
Untuk memasarkan buku terbitannya, Pelangi memakai tenaga pemasar yang disebut book advisor (BA) Saat ini tercatat 500 BA Pelangi yang tersebar di berbagai tempat, mulai dari Surabaya, Malang, Jogja, Solo, Bandung, Jakarta, Lampung, Palembang, Medan hingga Makasar.
Menurut Irfan, 90% distributornya adalah para ibu rumah tangga. Mereka dilatih soal produck knowledge, fitur dan benefit buku. “Dan lebih penting dari itu, marketing kami sebelum menawarkan buku , mereka harus membuka wawasan calon pembeli tentang pentingnya pendidikan keluarga, pentingnya menumbuhkan minat baca sejak dini. Jadi mereka seperti konsultan buku atau pendidikan, karena itu kami menyebut mereka buka book seller atau book advisor,” jelas peraih The International Young Creative Entrepreneur (IYCE) Award 2008 dari British Council ini.

Pola pemasarannya memakai direct selling. Kebanyakan mereka langsung presentasi di depan prospek, atau melalui seminar, atau miniseminar. Ada juga yang menggunakan internet sebagai alat penawaran, yang.intinya bisa menjelaskan tentang fitur dan benefit produk tersebut.
Berapa keuntungan atau komisi yang didapat? Pelangi mematok komisi 10% dari setiap menjual satu set buku. Pendapatan dari tiap BA bervariasi. Sebagai ilustrasi, jika mereka dapat menjual satu set buku, komisi mereka sekitar Rp300 ribu, kalau mereka menjual 10 set dalam sebulan penghasilan mereka Rp3 juta. Bahkan ada yang pernah mendapat Rp14juta dalam satu bulan. “Ada yang melalui internet, bisa meraih penghasilan Rp6 juta per bulan, hanya dengan duduk di depan komputer,” terang Irfan.

Informasi tambahan, Pelangi Mizan saat ini masuk ke penerbitan buku-buku pengayaan pendidikan yang sifatnya direct seling tapi bukunya murah. “Tapi kami mengandalkan dari kuantitas penjualannya. misalnya buku pendidikan perdamaian yang hingga kini sudah digunakan oleh lebih dari 15.000 siswa di Aceh, Jawa Barat, Kalimantan dan Sulawesi. Buku peace generation ini sudah dipresentasikan di Budapest Hungaria, dan akan digunakan juga di beberapa negara muslim seperti Pakistasn, Bosnia, Palestina, Moro Filipina,” tandas Irfan IYC 2008 karena dianggap berhasil mengemas sesuatu yang berat, yaitu pendidikan perdamaian. $ AGUSTAMAN

Baca Selengkapnya..

Penyakit Hilang Duitpun Datang

Diposting oleh Agustaman | 15.21 | 10 komentar »

(Tulisan ini pernah saya tulis di majalah DUIT! edisi 10/Oktober 2008)

PUSAT KESEHATAN CERAGEM

Dengan sistem pemasarannya yang unik, Ceragem, perusahaan alat kesahatan asal Korea Selatan menawarkan peluang menjadi dealer yang membuka Ceragem Center. Perorangan juga bisa membuka Rumah Ceragem hanya dengan membeli minimal satu alat kesehatan Ceragem.

Matahari pagi baru saja menampakkan sinarnya. Tapi beberapa orang yang kebanyakan pria dan perempuan paro baya sudah mengantri dengan rapi di depan pintu gerbang rumah bernomor 10 di Jl. Kramat IV, Jakarta Pusat. Sekitar pukul 07.00 pagi antrian tersebut akan mengular panjang, bisa mencapai 100 meter. Dalam satu hari, tempat itu dikunjungi tak kurang dari 600 orang. Pemandangan seperti ini hampir setiap hari bisa ditemui di tempat itu dan beberapa Ceragem Center lainnya.

Mereka bukan antri sembako atau untuk mendapatkan BLT (bantuan langsung tunai). Mereka umumnya adalah orang-orang yang menderita berbagai penyakit, mulai dari alergi, asam urat, sampai gangguan reproduksi dan berbagai keluhan penyakit lainnya. Mereka berharap, lewat alat terapi kesehatan yang terdapat di tempat yang disebut sebagai Ceragem Center tersebut, penyakitnya berangsur hilang dan sembuh. Apalagi pengobatan yang mereka lakukan gratis alias tidak bayar.

Menggratiskan pemakaian alat kesehatan yang bernama Ceragem Compact CGM-P390 memang strategi unik yang dilakukan Ceragem di seluruh dunia, termasuk Indonesia. “Kami memang tidak memungut biaya buat yang datang ke sini. Kami ingin mereka yang datang merasakan manfaat yang besar dari alat kesehatan Ceragem. Mereka boleh datang setiap hari ke sini, kecuali Minggu, sampai sembuh,” papar Tara Wahyuni, Ceragem Salemba Center Manager kepada DUIT!

Imelda Sutrisna, Public Relation Team Head PT Inni Ceragem mengiyakan ucapan Tara. Katanya, Ceragem adalah satu-satunya perusahaan di dunia yang memasarkan produk dengan cara unik. Uniknya, selain gratis memakai alat terapi kesehatan tadi juga pelayanannya yang ramah oleh para staf Ceragem Center di seluruh dunia. Sapaan akrab dan kekeluargaan dari para staf akan kita temui di setiap center. “Ceragem ingin semua orang mencoba alat kesehatan yang bisa menolong orang menyembuhkan semua penyakit ini. Kami memang ingin semua orang hidup sehat. Dan semua itu melalui proses. Bila kesadaran akan kesehatan itu sudah melekat di diri orang yang bersangkutan, suatu saat mereka akan membeli sendiri alat tersebut dan memakainya di rumah,” terang Imelda.

Sebagai informasi, Ceragem adalah perusahaan alat kesehatan keluarga terkemuka di dunia, yang berasal dari Korea Selatan sejak tahun 1998. Perusahaan yang semula bernama Industri Kesehatan Samsung ini mulai memasarkan produknya ke pasaran internasional yaitu Amerika Serikat pada bulan Oktober 1999. Hingga saat ini Ceragem telah hadir di 5 benua dan 6 daratan, lebih di 59 negara dan telah memiliki sekitar 2500 Center di dunia, termasuk Indonesia.

Di Indonesia, distributor tunggal alat ini dipegang oleh PT Inni Ceragem. Saat ini sudah ada 89 Ceragem Center yang tersebar di seluruh Indonesia dan Head Office yang berada di Jakarta dan 3 Regional Head Office di Surabaya, Medan dan Semarang. “Kami bertekad untuk membuka 150 center di tahun 2008 ini dan total 1.000 center yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, sehingga kami dapat mewujudkan tujuan kami untuk menyehatkan seluruh masyarakat Indonesia,” sambung Imelda lagi.

Buka Center atau Rumah Ceragem?

Untuk pembukaan Ceragem Center, PT Inni Ceragem menawarkan peluang bagi para investor yang ingin merasakan kualitas alat kesehatan Ceragem Compact sekaligus merasakan manfaat bisnisnya. Syaratnya cukup mudah. Pertama, menyediakan tempat atau lokasi yang bakal dipakai sebagai center. Center bisa berupa bangunan rumah berukuran 300 m2 atau ruko minimal 2 lantai (ukuran 8 m x 16 m atau 5 m x 16 m). Lokasi harus strategis, artinya mudah dijangkau dari mana saja dan kalau bisa di dekat pemukiman padat penduduk.

Syarat kedua, menyiapkan sumber daya manusianya (SDM) yang nantinya akan di-training di kantor pusat selama 2 minggu sebulan sebelum hari pembukaan center. Untuk satu center, SDM yang dibutuhkan sekitar 10 orang dengan satu orang di dalamnya sebagai center manager.

Ketiga, menyiapkan investasi sekitar Rp300 juta sampai Rp500 juta. Uang segitu sudah termasuk sewa rumah, penyediaan semua keperluan center (furnitur, tempat tidur/bed, alat presentasi, dll) termasuk juga gaji karyawan (10 staf) untuk satu bulan pertama.

Bagaimana sebuah center bisa mendapatkan keuntungan kalau semua orang yang datang memakai alat kesehatan tersebut tidak membayar? “Kami memang tidak secara terang-terangan atau memaksa orang untuk membeli alat ini. Bila kesadaran mereka yang datang tumbuh bahwa menjaga kesehatan itu lebih penting ketimbang mengobati, lambat laun mereka akan berusaha membeli alat ini. Sudah banyak tamu center Salemba ini yang akhirnya membeli alat tersebut dan bahkan membuka Rumah Ceragem di tempat tinggalnya,” jawab Tara yang center-nya bisa menjual 135-an Ceragem Compact selama 11 bulan center itu beroperasi di Kramat IV.

Membuka Rumah Ceragem adalah peluang usaha lain yang juga bisa dilakukan Anda yang ingin sehat badan dan kantung. Syaratnya juga cukup mudah, cukup membeli minimal 1 alat Ceragem Compact, satu ruang kamar untuk menaruh satu bed..

Harga Ceragem Compact-nya sendiri dibanderol Rp10,5 juta/unit. Soal bed, Anda bisa membuatnya sendiri atau memesan lewat supplier Ceragem dengan harga berkisar Rp600 ribu-Rp900 ribu per unit. Anda juga bisa melengkapi Rumah Ceragem dengan tambahan alat lain semisal warm pad (matras kehangatan yang sejatinya bukan produk Ceragem). Harganya Rp2,480 juta/unit.

Oh ya, pemilik Rumah Ceragem boleh memungut tarif buat tamu yang ingin mencoba alat tersebut. Kantor pusat Ceragem memang tidak mematok tarif, karena tiap wilayah geografis bisa berbeda antara satu dengan yang lainnya. Di Jakarta saja, tarifnya berkisar antara Rp4 ribu sampai Rp7 ribu (pakai warm pad). Tapi rata-rata memasang tarif Rp5 ribu untuk terapi selama 30 menit.

Menurut Imelda, saat ini sudah ratusan orang membuka Rumah Ceragem. Mereka sebelumnya adalah orang-orang yang sering mengunjungi center untuk menyembuhkan penyakitnya. Azril Idrus (61) dan Ha Kie Kwet (43) adalah contoh dua dari ratusan orang yang membuka Rumah Ceragem. Azril, warga Rawamangun yang membuka Rumah Ceragem di Jl. Kali Pasir, Jakarta saat ini hanya punya 1 alat dan dua bed. Pengunjunggnya pun belum banyak, sekitar 3-4 orang setiap hari.

Berbeda dengan Ha Kie Kwet alias Keket. Pria yang mengaku terkena diabetes ini membuka Rumah Ceragem di rumahnya kawasan Kramat Pulo, Jakarta. Di tempatnya kini dia punya 3 alat dan 6 bed. Tempatnya selalu ramai dikunjungi orang. “Pernah waktu Februari-Maret kemarin, saya kedatangan rata-rata 120 orang setiap hari,” aku Keket. Dengan tarif Rp5 ribu/orang, dalam sehari Keket bisa meraup Rp600 ribu. Nah, kalau dalam sebulan ada 26 hari, Keket bisa mengantungi omzet sebulan sekitar Rp156 juta. Itu berarti dia bisa cepat balik modal.

Bagaimana dengan Anda? $ AGUSTAMAN

Baca Selengkapnya..

Sehatnya Bubur Bayi Buatan Hajah Dias

Diposting oleh Agustaman | 15.12 | 21 komentar »

(Tulisan ini pernah saya tulis di majalah DUIT! edisi 09/September 2008)

Terdorong ingin membantu para balita mendapat asupan makanan sehat, Hj. Dias membuat makanan (bubur) bayi siap saji lalu menjualnya. Usahanya terus berkembang. Kini dia punya 30-an cabang di Jakarta.

Dengan cekatan perempuan muda itu memasukkan bubur ke dalam wadah-wadah yang ada di depannya. Sementara satu perempuan muda lainnya merapikan wadah yang telah terisi bubur tersebut lalu memberikannya ke pembeli yang sudah menunggu sejak pukul 05.30. Sementara di sudut lain, Hj. Mardiastuty tak kalah sibuknya. Setelah melayani pembayaran satu pembeli, perempuan yang akrab disapa Hajah Dias ini lalu memanggil pembeli berikutnya dengan menyebutkan nomor antrian.
Membeli bubur dengan nomor antrian? Ya, ini sebenarnya pemandangan sehari-hari yang terlihat di halaman rumah Hajah Dias. Sejak pagi hari, sekitar pukul 05.30 para ibu dan bapak muda sudah antri di halaman rumah di Jalan Kayu Manis IV No.11, Jakarta Timur. Mereka rela antri untuk mendapatkan giliran membeli bubur. “Supaya tertib dan nggak rebutan, tiap pembeli yang datang harus ambil kartu nomor urut. Mereka akan saya panggil sesuai urutan nomor. Ada juga yang sudah menitipkan rantang atau wadah plastik sehari sebelumnya. Rantang ini saya beri nama, dia tinggal ambil. Mirip kateringlah begitu,” papar perempuan berusia 63 tahun ini kepada DUIT!.
Dalam waktu sekitar satu jam bubur yang dijual seharga Rp2.000/porsi itupun ludes. Bubur yang dijual memang bukan bubur biasa. Tapi bubur bayi. Hajah Dias lebih senang menyebutnya makanan bayi siap saji. “Ini memang bukan bubur yang biasa dijual, tapi bubur khusus untuk balita, tanpa vetsin dan bahan pengawet. Saya membuatnya dengan bermacam-macam menu, ada yang pakai daging giling, ati ayam, ikan ditambah sayur-sayuran seperti wortel, kacang ijo, jagung manis, tomat, dan keju,” ucap Hj. Dias yang selalu mengganti menu setiap hari supaya anak-anak tidak bosan.
Ibu lima anak dan nenek satu cucu ini bercerita, dirinya sebenarnya tidak sengaja berjualan makanan bayi siap saji tersebut. Sebagai aktifis Posyandu di wilayah rumahnya, Hj. Dias kerap menyaksikan para ibu atau bapak yang punya balita membelikan bubur buat sang buah hati di penjual yang kerap lewat di depan rumahnya. “Cuman dibumbui kecap manis, mana bisa bubur itu bergizi,” pikirnya ketika itu.
Tergerak dengan situasi tersebut, sekitar tahun 2003 Hj. Dias mencoba berjualan makanan siap saji buat balita di depan rumahnya. Soal resep, bukan hal sulit buat dia karena pengalamannya sebagai perawat selama 30 tahun membuatnya tahu mana makanan yang sehat dan bergizi. “Waktu pertama kali jualan, saya hanya menghabiskan beras sekitar setengah kilo, kira-kira jadi 20 porsi. Untuk promosinya, saya taruh plang di pagar depan rumah: Sedia Bubur Bayi. Nggak dinyana hari itu banyak yang datang. Nggak sampai setengah hari sudah habis. Besoknya, tetangga-tetangga dan kader Posyandu bilang ke orang-orang lain, kalau mau beli bubur bayi di bu haji Dias aja,” cerita perempuan yang sejak 1998 pensiun sebagai perawat di rumah sakit umum pemerintah ini.
Meski awalnya sempat ditentang suami, istri H. Kudjati Sutanto ini tetap meneruskan jualan buburnya. Dia berkilah, meski secara ekonomi keluarganya sudah cukup mapan, menolong orang lain lewat pemberian gizi yang baik buat balita adalah perbuatan mulia. Apalagi di rumah waktu itu dirinya sudah tidak punya anak kecil lagi, sudah lulus sekolah dan bekerja. Ini bisa jadi pengisi waktu lagi buatnya selain aktif di Posyandu. “Bapak (suami) akhirnya setuju, terlebih ketika dia tahu dari hari ke hari banyak orang datang ke sini beli bubur, mulai dari tetangga sekitar sampai dari luar kawasan Kayu Manis sini,” ujar istri pensiunan Perwira AL yang dikaryakan di Pertamina ini.

Punya 35-an Cabang
Ketika usahanya mulai berkembang, Hj. Dias kemudian mendaftarkan izin penyehatan makanan jasa boga ke Suku Dinas (Sudin) Kesehatan Masyarakat Jakarta Timur (Izin No.31 Tahun 2007). Tak hanya sampai disitu. Aries, putra sulungnya yang sudah bekerja dan berkeluarga menyarankan ibunya membuka cabang di tempat lain Aries bilang, banyak temannya yang bisa diajak bekerja sama. Ada juga teman kuliahnya yang sudah lulus tapi belum mendapat pekerjaan. Dengan membuka cabang ini, Aries berharap bisa membantu teman-temannya berbisnis.
Hj. Dias setuju, asal urusan manajemen dan pengontrolan cabang Arielah yang bertanggung jawab. Sementara dia akan bertanggung jawab di pelatihan koki yang akan memasak nanti di dapur lain dan pengontrolan kualitas masakan. “Karena saya bertanggung jawab kepada masyarakat, pembantu saya yang bantu masak di dapur rumah dan koki yang akan masak di tempat lain saya tekankan soal kualiatas masakan. Semua bahan harus dicari yang paling baik, harus segar. Karena ini makanan untuk bayi, jadi harus higienis,” paparnya.
Saat ini tercatat sekitar 35 cabang bubur Hj Dias berdiri. Ada sekitar 12 cabang di Jakarta Timur, 17 di Jakarta Barat, sisanya di Jakarta Selatan, Cimanggis dan Depok. Kebutuhan semua cabang ini dipenuhi dari tiga dapur Hj. Dias, masing-masing satu di rumahnya Kayu Manis, Pisangan dan Slipi.
Untuk membuka cabang (tepatnya mitra atau agen) bubur Hj.Dias syaratnya cukup mudah. Utamanya adalah hobi memasak dan punya pengalaman mengurus anak. Selebihnya cukup membeli putus bubur Hj. Dias dengan harga mitra Rp1.500/porsi, tetapi mereka tetap harus menjual dengan harga yang sama Rp2.000/porsi. Mitra juga harus melengkapi usahanya dengan spanduk produk yang harus dibeli seharga Rp150 ribu. Mitra juga bisa melengkapi sendiri jualannya dengan brosur produk. “Jualannya bisa dimana saja, tapi kebanyakan di rumah sendiri,” ujar Hj. Dias.
Salah satu mitra Hj. Dias yang cukup sukses adalah Arif Maulana. Bapak satu anak yang tinggal di kawasan Kemanggisan, Jakarta Barat ini semula hanya membuka satu tempat usaha bubur bayi Hj. Dias di depan rumahnya. Mantan karyawan koperasi ini mengambil bubur di dapur Bu Dias di Slipi. “Jualan saya ternyata laku keras. Dalam sejam bubur sudah habis. Makanya, saya tergerak buka satu cabang lagi di daerah Kebon Jeruk. Dari kedua jualan itu setidaknya saya bisa meraih keuntungan Rp3,5 juta per bulan. Ini membuat saya makin semangat untuk buka satu lagi di Kemandoran,” papar Arif yang berkenalan dengan bubur Dias ketika bertandang ke rumah orang tuanya di kawasan Pramuka, tak jauh dari tempat tinggal Hj. Dias.
Menurut Hj. Dias, karena secara tak sengaja saat ini produknya menyasar kalangan menengah bawah, dia ingin ke depannya produknya juga bisa dinikmati kalangan menengah atas. “Nah, itu tugas anak-anak saya untuk mengelola pasar. Biar mereka nanti yang merumuskan. Tugas saya hanya memasak dan memastikan bayi atau balita tumbuh sehat dan cerdas,” tandasnya menutup pembicaraan. $ AGUSTAMAN.

Baca Selengkapnya..

Pemasok Aksesoris Interior dari Cipadu

Diposting oleh Agustaman | 20.51 | 15 komentar »

(Tulisan ini pernah saya tulis di majalah DUIT! edisi 02/Februari 2008)

Setelah mengalami beberapa fase perubahan semenjak didirikan tahun 2002, Dewi Sambi Tenun mulai berkembang untuk menerima pesanan grosir dalam jumlah besar dari beberapa toko/kios di sekitar Jakarta.

Anda yang warga Jabodetabek, mungkin pernah mendengar nama Cipadu. Ya, kawasan yang berada di Kecamatan Ciledug, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten tersebut sudah lama dikenal sebagai sentra produsen dan perdagangan kain, pakaian dan aneka kerajinan tangan berbahan baku kain.

Nah, kalau kebetulan Anda berkunjung ke sana mungkin bisa menemukan sarung bantal, ataupun gorden buatan Dewi Sambi Tenun yang dijajakan beberapa pedagang di sana. Namun, kalau Anda ingin membeli dalam jumlah banyak alias grosiran, datang saja ke tempat produksinya di Jl. Taman Asri Lama, tak jauh dari sentra kulakan kain Cipadu.
Lokasinya mudah ditemukan karena di tepi jalan raya. Cukup mencolok dengan warna kuning cerah serta tulisan besar “Dewi Sambi Tenun” di depan rumah.

Di tempat itulah, si empunya rumah menempatkan 40 karyawannya untuk memproduksi aneka kerajinan tangan berbahan baku tenun dan batik. Tak hanya tempat memproduksi, tapi ada juga ruang pamer dan penjualan produk.

“Tempat ini kami tempati dan bangun sejak 2005 lalu. Lahan seluas 200 meter persegi ini dibeli dari hasil jerih payah kami berjualan aneka ragam kerajinan dari tenun dan batik ini,” terang si empunya rumah dan pemilik Dewi Sambi Tenun (DST), Wijiastuti alias Uthie kepada DUIT1

Uthie memang pantas bangga dan bersyukur dengan usaha yang dirintisnya dari rumah kontrakan. Bagaimana tidak, setelah mengalami beberapa fase perubahan sejak didirikan tahun 2002 silam, dimulai dari hanya menerima pesanan perorangan dan dengan satu orang karyawan, kini sudah punya 40 orang karyawan untuk melayani pesanan grosir dalam jumlah besar dari beberapa toko/kios di sekitar Jakarta.

“Sejak kecil saya memang sudah tinggal di Cipadu. Awalnya kawasan ini berkembang menjadi sentra kulakan kain untuk menyaingi kulakan kain di Cipulir dan Ciledug> Tapi saya lihat kebanyakan pedagangnya menjual kaos dan kain. Belum ada yang jualan
kerajinan tangan berbahan baku tenun atau batik. Kebetulan, waktu kuliah saya pernah ikut seminar yang intinya tenun masih punya peluang untuk dikembangin jadi bisnis lain,” papar alumnus Universitas Negeri Jakarta jurusan Tata Busana ini.

Dari situlah Uthie mulai tergerak untuk memulai usaha. Atas seijin suaminya, Dwi Mintiarto, Uthie menggunakan uang tabungannya sebesar Rp3,5 juta untuk membeli bahan baku tenun dan batik dari perajin di Pekalongan, Yogyakarta dan Malang. Bahan baku itu kemudian dia jahit menjadi gorden. Hasilnya, dia pamerkan ke beberapa tetangga dan ke beberapa penjual kain Cipadu. Tak dinyana, sambutannya cukup bagus. Bahkan ada yang memesan, meski belum dalam skala besar.

Uthie yang saat itu masih tinggal di rumah kontrakan, kemudian merekrut satu orang penjahit untuk membantunya. “Waktu itu memang ada satu grosir yang awalnya memesan dalam jumlah lumayan. Tapi, lama-lama kok saya merasa ditekan oleh si grosir tadi. Dia juga suka bayar telat. Akhirnya saya putar haluan, jualin produk saya ke beberapa pameran yang biasanya diadakan beberapa perkantoran dan mal di Jakarta,” kisah perempuan berusia 29 tahun ini.

Memasok ke Toko Grosir

Titik balik usahanya mulai kelihatan ketika dia mengikuti pameran Gelar Tenun 2003 di Hotel Sahid, Jakarta. Pembelinya tak hanya orang Indonesia, tapi juga para ekspatriat dan orang asing yang kebetulan menginap di sana. Dari situ, Uthie yang mengusung nama usaha “Dewi Sambi Tenun” lalu mengikuti even-even pameran lainnya. Langkah ini membuat usahanya kian dikenal orang. Tak sedikit yang memesan langsung ke rumahnya.

Karena pesanan mulai banyak, Uthie mulai menambah karyawan. Sang suami yang sebelumnya bekerja di perusahaan swasta, dimintanya mengundurkan diri untuk membantu dirinya yang mulai kewalahan mengembangkan produksi dan desain. Produk yang awalnya hanya gorden, juga mulai dikembangkan untuk memenuhi permintaan. Ada tutup tissue, sarung bantal, tempat koran, tas mungil, tempat laundry, looper, taplak meja, tutup galon, placemate, keset, dan lampu. Semuanya tetap memakai bahan baku tenun kain, batik dan ditambah tenun eceng gondok.

Dia juga rajin ikut pameran kerajinan dengan skala besar seperti Inacraft, ICRA, Indonesia Expo, Pekan Raya Jakarta dan beberapa Expo di Batam, Bali dan Bandung. Pameran di luar kota tadi, membuat DST kebanjiran pesanan.

Di luar pameran, DST juga memasok produknya ke beberapa pedagang retail dan grosir seperti di Cipadu, Pondok Gede, Tamini Square, Mangga Dua, Pusat Grosir Cililitan (PGC), ITC Depok, dan Depok Town Square (Detos). Belakangan DST juga mengembangkan sendirinya outlet-nya di beberapa tempat di Jakarta (Melawai Plaza, Gajah Mada Plaza, Slipi Jaya, Atrium Senen), Tangerang (WTC Matahari Serpong, Bintaro Plaza).
Uniknya, beberapa orang juga memasarkan produk DST lewat cara mereka sendiri. Ada yang lewat internet (internet marketing), ada pula yang menjual langsung. Siska Hapsari misalnya. Perempuan yang juga anggota komunitas bisnis TDA ini menjual produk DST lewat blog. Dia menawarkan peluang untuk menjadi reseller produk DST dengan iming-iming diskon 20% bagi yang membeli paket full set DST. Ada juga tawaran di internet untuk menjadi member DST Club.

Soal ini Uthie menjawab enteng,”Alhamdulillah kalau banyak orang yang dengan caranya sendiri memasarkan produk DST. Ini malah membantu kami, tanpa kami harus keluarkan ongkos promosi”. Asal tahu saja, untuk beberapa pembeli tadi, ada yang beli putus, ada juga yang membayar tempo satu bulan (terutama grosir).

Dengan mematok harga mulai dari Rp10 ribu (tas mungil) sampai Rp150 ribu (lampu hias), Uthie mengaku bisa mengantungi omzet Rp20 juta-Rp300 juta sebulan.

“Produk kami memang dibuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan barang-barang interior yang bernilai seni dan berkualitas dengan harga terjangkau,” kata ibu dua anak yang kini sudah punya rumah sendiri di Perumahan Taman Asri, Cipadu plus 2 buah kendaraan roda empat dan beberapa motor untuk operasional karyawan. $ AGUSTAMAN

Baca Selengkapnya..

Kreasi Boleh Jadul Tapi Tetap Disuka

Diposting oleh Agustaman | 20.40 | 0 komentar »

(Tulisan ini pernah say tulis di majalah DUIT! edisi 10/III/Oktober 2008)

Di usianya yang sudah mencapai setengah abad, May Lita masih kreatif menciptakan produk rajutan untuk home décor, fashion dan aksesoris. Dia punya ratusan perajin binaan yang tersebar di Bali, Jogja dan Jakarta.

Jari-jari tangannya masih cekatan memencet tuts-tuts papan ketik laptop. Kaca mata bacanya membantu dia memelototi komentar yang masuk ke blog pribadinya. Selesai membalas komentar tersebut, dia melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena harus mengawasi pekerjaan anak buahnya: meng-up date dan memasukkan foto-foto yang memajang hasil karyanya. Sesekali dia menghisap dalam-dalam asap rokok putih kesukaannya.

“Kalau lagi bekerja begini, bisa lebih fresh dan konsentrasi sambil merokok,” ujar May Lita kepada DUIT! yang menyambangi kediamannya di kawasan Ciputat, Tangerang.

Komputer, laptop, email, dan blog memang bukan hal baru buat Melli, begitu perempuan paro baya ini biasa disapa. “Soal ketik mengetik, saya sudah mahir sejak muda. Jadinya, waktu jaman beralih dari mesin ketik ke komputer, nggak merasa kesulitan. Hanya saja soal program-program yang ada didalamnya termasuk internet, saya banyak diajarin anak-anak,” papar perempuan kelahiran Medan, 1952 ini. “Dari internet inilah saya memasarkan produk-produk buatan sendiri,” sambung pemilik usaha Rumah Rajut ini.

Ya, Melli adalah produsen kerajinan tangan dengan cara merajut (knitting, crocket dan felting). Knitting adalah rajutan dari benang katun, rayon, acrylic dan kasmere like. Ada yang dikerjakan dengan tangan dan mesin (meski tetap memakai sentuhan tangan untuk pinggiran atau sambungan). Sedangkan crocket (baca krose) adalah rajutan benang yang sepenuhnya dikerjakan dengan tangan. Adapun felting adalah melukis di kain sutera, setelah itu diproses sedemikian rupa dengan tangan sehingga membentuk desain unik untuk pelengkap baju (shawl). “Ketiga jenis rajutan itu saya buat untuk produk home décor, fashion dan aksesoris,” jelas Melli.

Rajutan benang yang biasanya dibuat sebagai pelengkap baju (seperti vest, cardigan), tas, ataupun taplak meja boleh jadi adalah produk jadul (jaman dulu) yang sering dikerjakan oleh ibu atau nenek-nenek kita dahulu. Melli juga mengaku, dirinya mahir membuat rajutan karena dia belajar dari sang nenek sejak duduk di bangku SMP di Medan tahun 1968 silam. Meski jadul, produk rajut ternyata masih punya banyak penggemar. Buktinya, Melli kini memproduksi ratusan item produk rajutan yang sebagian besar dipasok untuk sebuah butik fashion yang menjual produk Indonesia di pusat belanja dan hotel ternama di kawasan Thamrin, Jakarta.

Melli sendiri memulai bisnisnya ketika Indonesia dilanda krisis moneter (1998). Memanfaatkan keterampilan merajut, istri Peter Sulilatu ini mulanya membuat produk anak-anak seperti tas dan baju dengan teknik sulam crocket dan knitting. Produk itu lalu ditawarkan ke teman-teman anaknya. “Waktu itu responnya cukup bagus. Dari satu dua pesanan merambat ke dua, tiga pesanan dan seterusnya. Lewat mulut ke mulut, rajutan saya mulai dikenal teman anak saya dan tetangga rumah,” cerita Melli yang memperdalam pembuatan knitting di Australia ketika keluarganya bermukim di negeri Kanguru tersebut tahun 1973-1980.

Tahun 2006 informasi tentang Rumah Rajut akhirnya sampai juga ke pemilik butik fashion yang memajang dan menjual hasil karya anak bangsa di hotel ternama di bilangan Thamrin, Jakarta. Tak tangung-tanggung, si pemilik butik memesan lebih dari 400 pcs rajutan dari Melli. Boleh dibilang, pesanan pertama yang lumayan besar itu merupakan titik balik Melli untuk mengembangkan produk. Uang muka pesanan dipakainya untuk membeli alat produksi dan merekrut karyawan.

Dari semula dibantu satu orang karyawan, ibu lima anak ini mulai menambah beberapa karyawan lagi. Ketika pesanan kedua sebesar 4.200-an pcs datang lagi, Melli mulai menambah alat produksi seperti mesin jahit dan bahan baku lainnya. Untuk mengerjakan pesanan yang makin banyak, selain di rumahnya sendiri dia juga mendidik dan membina ratusan perajin di Bantul, Jogja dan Bali.

“Di rumah, saya membuat desain dan sample, lalu saya kirimkan beserta bahan baku ke para perajin di Jogja dan Bali. Di Bali saya kerja sama dengan studio rajut di sana. Di sana lebih banyak untuk pengerjaan knitting, kalau di Jogja kebanyakan crocket. Semua bahan, seperti benang saya beli di Bandung dan Surabaya.,” ucap nenek lima cucu ini yang belum memberikan pengerjaan tas rajutnya ke orang lain alias dikerjakan sendiri.

Dapat Kucuran Modal dari Bank

Di luar pengerjaan pesanan dari butik tadi, Melli juga masih melayani 200-an pelanggan di Jakarta dan sekitarnya. Pelanggan perorangan rata-rata adalah perempuan kelas menengah atas, mulai dari anak-anak, ABG sampai dewasa. Beberapa rajutan buatannya bahkan sudah melanglang buana ke mancanegara lewat tangan ketiga. Produk Melli juga memenuhi beberapa toko cindera mata seperti Chick Mart Kemang dan beberapa butik ternama di Jakarta. Dia juga kerap mengikuti pameran-pameran kerajinan tangan dan produk fashion seperti Food & Fashion Festival di Kelapa Gading, Jakarta, Bali Fashion Week dan Inacraft.

“Sebenarnya, memenuhi pesanan dari satu butik di Thamrin saja kami sudah keteteran. Tapi karena banyak pelanggan setia di luar itu, kami tetap mengerjakan pesanan mereka,” papar Melli yang produk felting-nya pernah dinobatkan sebagai “Produk Pilihan” dari majalah Femina.

Melli membanderol produknya mulai dari harga Rp60 ribu (aksesoris: gantungan kunci dll) sampai Rp1 jutaan (produk felting). Sedangkan untuk produk crocket, produknya dihargai mulai dari Rp60 ribu sampai Rp500-an ribu per pcs.

Seperti halnya pebisnis rumahan lainnya, Melli mengaku modal awalnya berasal dari uang tabungannya sendiri. Beberapa kali dia ditawari pinjaman modal dari pihak ketiga, tapi karena ketika itu belum membutuhkan, pinjaman itu tak direalisasikan. Namun, seiring dengan banyaknya pesanan dan niatnya untuk membesarkan usaha, tahun 2008 ini Melli akhirnya berani menerima kucuran dana dari Bank BRI Jakarta berupa Kredit Usaha Rumah (KUR). Sayangnya, perempuan berdarah Batak dari marga Batubara ini enggan mengungkap besaran modal pinjaman yang diterimanya.

Yang pasti, saat ini, dibantu ratusan perajin binaannya dan anak sulungnya Ivan yang membantu di pemasaran produk, Melli terus berkreasi menciptakan varian-varian rajutnya menjadi barang yang tak lekang dimakan jaman.

“Maunya sih punya toko atau butik sendiri. Tapi belum siap karena produksi sekarang saja sudah merepotkan kami. Biar repot, tapi saya bahagia, produk yang katanya jadul ini masih tetap disuka,” tandas Melli yang bisa meraih omzet sekitar Rp20-an juta per bulan ini. $ AGUSTAMAN

Baca Selengkapnya..

Furnitur Buat Anak Berimajinasi

Diposting oleh Agustaman | 13.57 | 0 komentar »

(Tulisan ini pernah saya tulis di majalah DUIT! edisi 11/November 2008)

Semula Really me, bisnis rumahan yang dirintis James Arthur dan adiknya hanya menjual furnitur biasa. Kemudian, mereka memberi perhatian lebih pada barang-barang dekorasi rumah bagi anak-anak.

Ini kebiasaan buruk anak-anak dimana-mana. Sehabis bermain dengan aneka mainannya, mereka malas memberesi atau menaruhnya kembali ke tempat atau wadah yang sudah disediakan. Nah, biar nantinya anak-anak itu mau memberesi mainannya kembali, Anda bisa membelikan boks penyimpan mainan dengan bentuk unik. Ada bentuk ambulans, gerobak es krim dan mobil pemadam kebakaran. Ada juga sofa yang dibawahnya berfungsi menyimpan mainan.
Boks penyimpan mainan tersebut memang sengaja diciptakan James Arthur untuk mengasah imajinasi anak-anak. Selain boks penyimpan mainan (toys box), James juga membuat aneka furnitur untuk anak, seperti tangga khusus untuk anak (untuk naik tempat tidur, cuci tangan, dsb.), meja kursi belajar, gantungan baju, hiasan dinding, tempat sampah. Semua produk furnitur tadi dihiasi dengan gambar-gambar yang mengasah imajinasi anak, semisal gambar yang menceritakan pesawat terbang berangkat sampai akhirnya mendarat di bulan. “Produk kami berkonsep the real finest thing, menciptakan barang-barang terbaik untuk anak-anak,” papar James kepada DUIT!
Menurut James, bisnis rumahan yang ia rintis bersama sang adik semula hanya menjual furnitur biasa. Kemudian, mereka memberi perhatian lebih pada barang-barang dekorasi rumah buat anak-anak. “Adik saya yang kebetulan suka jalan-jalan ke luar negeri, sering melihat barang-barang untuk anak-anak sangat diperhatikan, bentuknya artistik dan fungsional. Di sini, produk seperti itu sukar dicari. Makanya, ketika adik menawarkan kerjasama bisnis, saya langsung mengiyakan. Kebetulan, waktu itu saya sedang senang-senangnya dapat momongan. Ingin membuat sesuatu barang fungsional buat anak saya,” tambah bapak dua anak ini.
Langkah pertama yang dilakukan adalah mencari contoh produk di internet. James kemudian mencoba membuat desain sendiri, mencari bahan baku kayu yang cocok dan mencari tukang (kayu, cat dan lukis) untuk mewujudkan idenya. Setelah berkali-kali mencoba membuat produk yang diinginkan, akhirnya terciptalah produk pertama: toys box.
“Ada sekitar 9 jenis toys box yang waktu itu saya buat. Semuanya hand made,” jelas James yang menghabiskan Rp40 juta sebagai modal awal untuk membuka Really me.
Dengan langkah yakin, James lalu membuka toko di Kemang, Jakarta Selatan untuk memasarkan produk toys box-nya. Alasannya, Kemang dihuni banyak ekspatriat dan masyakarat kelas menengah atas yang jadi sasaran produk Really me. Di sini, tak hanya toys box yang dipajang dan dijual. James juga membuat produk furnitur lain (home accessories dan home décor) untuk anak-anak.
Sayang, toko yang dibukanya tersebut hanya bertahan tiga bulan karena sepi pembeli. “Setelah saya pelajari, ternyata bukan produk saya nggak laku, tapi memang di sana sepi pembeli. Kemang nampaknya bukan primadona lagi buat tempat jualan,” analisa alumnus program D3 Foreign Business Language Universitas Surabaya ini.
Tak patah arang, lelaki yang sebelumnya berbisnis properti bersama sang ayah dan berbisnis souvenir perkawinan ini mencari alternatif lain memasarkan produknya. Dia mencoba ikut pameran Sunday Kid di Cilandak Town Square (Citos), Jakarta. Tak dinyana, pameran pertama yang diikutinya berjalan sukses. Produknya banyak terjual, bahkan banyak yang memesan. Di pameran tersebut, James mengaku mendapat masukan dari pembeli dan menambah jaringan pertemanan antar sesama peserta pameran.

Berkah Setelah Diliput
Pameran di Citos juga membawa berkah lain buat James. Beberapa media elektronik mewawancarinya. Setelah itu beberapa media cetak menuliskan profil bisnisnya. Dari situ, produknya mulai dikenal luas dan mendapat banyak pesanan termasuk dari luar Jawa, seperti Jambi, Padang dan Surabaya.
Saat ini, James baru sebatas mengerjakan pesanan saja. Maklum, pengerjaan semua produknya masih dikerjakan dengan sentuhan tangan alias handmade.
Dengan dibantu 10 orang karyawan dan 2 tukang lukis, kapasitas produksi Really me per bulan baru mencapai 20 furnitur besar dan 100 buah hiasan dinding. Harganya dipatok mulai dari Rp35 ribu sampai Rp1,3 juta (belum termasuk ongkos kirim). “Pelanggan terbesar saya, selain perorangan adalah sejumlah sekolah TK internasional dan dokter anak,” jelas pria berdarah Minahasa berusia 33 tahun ini.
Di luar produk tadi, James sebenarnya memasarkan jual perhiasan (jewelry) seperti gelang, kalung, anting-anting yang khusus dibuat sang adik untuk segmen ibu dan anak. Harga jualnya mulai dari Rp80 ribu sampai Rp1,5 juta (kristal).
Semua pengerjaan produk, mulai dari desain sampai pengecatan, semuanya dilakukan James dan karyawannya di pavilion rumah orang tuanya di kawasan Tebet Barat Dalam, Jakarta. “Selain workshop, disini juga jadi tempat pamer. Untuk sementara saya nggak mau cari ruang pamer seperti di Kemang dulu. Biarlah yang lalu jadi pelajaran untuk usaha saya,” kata James yang juga pernah ikut pameran di ICRA, Smes’Co dan di Pacific Place, Ramadhan lalu.
Saat ini, omzet Really me rata-rata bisa mencapai Rp20 jutaan sebulan. Namun, di masa pameran atau menjelang Lebaran kemarin, omzetnya bisa lebih besar lagi.
Soal persaingan, James mengaku tak menemukan pesaing yang sama. “Memang ada produsen yang membuat juga dengan teknik hand printed, tapi tetap saja beda dengan produk saya. Makanya saya tidak takut (bersaing) karena saya percaya produk kami lebih bagus kualitasnya,” tandas pria yang sempat bekerja di perusahaan periklanan ini. $ AGUSTAMAN

Baca Selengkapnya..

Pasarnya Kelas Atas Dalam dan Luar Negeri

Diposting oleh Agustaman | 13.39 | 0 komentar »

(Tulisan ini pernah saya tulis di majalah DUIT! edisi 05/Mei 2008)

Memulai bisnis tidak disengaja, Fiya Trissia kini dikenal sebagai produsen perhiasan dan aksesoris fashion untuk kelas atas. Produknya sering dipamerkan di mancanegara.

“Kalau mau wawancara dan memotret produk, saya tunggu kedatangan Anda secepatnya di rumah. Soalnya, sebentar lagi saya harus mengepak jualan saya. Mau dibawa pameran ke Polandia awal Mei ini,” begitu pesan Fiya Trissia di seberang telepon kepada DUIT! belum lama berselang.

“1st Indonesia Expo in Central and East Europe” yang berlangsung di ibukota Polandia, Warsawa pada 8-10 Mei 2008 adalah ajang pameran yang dimaksud Fiya. Fiya hanyalah satu diantara puluhan perajin lainnya asal Indonesia yang bakal memenuhi stand di ajang pameran untuk pasar Eropa Tengah dan Timur tersebut. Bagi Fiya sendiri, berpameran di mancanegara memang bukan sekali ini saja. Perajin perhiasan mutiara dan permata serta aksesoris fashion lainnya ini juga pernah memajang produknya bersama produsen dan perajin Indonesia lainnya di Los Angeles, Amerika Serikat; Tokyo, Jepang (dua kali); Mumbai, India; Hamburg, Jerman; dan Milan, Italia. Ini belum termasuk ajang pameran yang diikutinya di dalam negeri. Di negeri sendiri, dia juga kerap mengikuti ajang pameran besar dan bergengsi, seperti Inacraft, ICRA, Indo Craft, Gelar Batik Nusantara, dan Woman International Club.

“Lewat pameran inilah saya bisa meluaskan pasar dan mencari buyer-buyer baru, terutama dari asing,” papar perajin yang menjadi binaan Departemen Peridustrian sejak 2006 karena ajang pameran di luar negeri itu. “Tapi itu bukan berarti saya melupakan pasar lokal. lho,” sambung perajin yang membidik pasar menengah atas ini. Sebagai informasi saja, produk buatan tangan Fiya dan para karyawannya ini kerap menjadi langganan ibu-ibu pejabat dan para selebritis. Beberapa nama artis seperti Emilia Contessa, Hetty Koes Endang, Dorce Gamala, menjadi pelanggan setia produk perhiasan Fiya. Produknya juga kerap dipakai para presenter perempuan di tayangan infotainment beberapa staisun televisi tanah air.

“Jujur, sebenarnya bisnis ini dimulai secara tak sengaja. Waktu itu, sekitar tahun 2000-an kalung kristal swaroszky anak saya Fika terbengkalai rusak di kamar. Lalu saya coba perbaiki, memodifikasi kalung itu jadi gelang. Gelang itu jadi perhiasan saya sehari-hari,” cerita ibu dua anak ini.

Suatu hari Fiya hadir dalam sebuah arisan ibu-ibu di lingkungan rumahnya. Seorang ibu tertarik dengan gelangnya dan minta dibuatkan gelang sejenis. Ibu-ibu lain pun memesan perhiasan serupa. Dari sinilah awal bisnis perhiasan istri Didi Mulyadi, seorang kontraktor, ini berjalan.

Demi Kepuasan Pelanggan

Semula, perempuan bayu berusia 44 tahun ini hanya menerima pesanan-pesanan dari para tetangga, teman dan kerabatnya di rumah. Di rumahnya yang cukup besar di bilangan Bangka IX, Jakarta Selatan (kini dia sudah pindah ke Bangka XI C) Fiya mengerjakan sendiri pesanan itu, mulai membeli bahan, membuat sampai mengantarkan barang serta mengurus keuangan. Tapi, ketika pesanan mulai bertambah dan dia tak sanggup lagi mengerjakan sendirian, Fiya akhirnya mencari tenaga tambahan. Mulanya hanya satu pekerja. Namun, seiring meningkatnya pesanan, jumlah karyawan pun bertambah. Saat ini tercatat ada 6 orang karyawan yang siap membantu Fiya memproduksi kalung, anting, gelang, bros dan tusuk konde.

Fiya mengaku, untuk membuat perhiasan yang bisa memuaskan pelanggannya, dirinya tidak pernah memperhitungkan nilai materiilnya. Semahal apapun bahan itu, bakal dia pakai di karyanya. Inilah yang terkadang membuat perhiasan dan aksesoris buatannya berharga tinggi. “Tapi, kalau pelanggan biasanya tahu dengan mutu barang saya,” ujar Fiya yang kerap memakai batu kristal swaroszky, mutiara air tawar, dan batu-batu alam mahal lainnya ini pada produk buatannya. Sebagian besar bahan baku itu masih impor dari Austria dan beberapa negara lain.

Namun, tak sedikit konsumen yang kurang tahu kualitas barang, akan menawar produknya dengan harga rendah. Fiya juga tak memungkiri, ada beberapa pesaing yang membuat produk serupa dengannya tapi dengan batu-batu imitasi. Padahal, kalung atau gelang asli dan imitasinya bisa berbeda harga sampai 3-5 kali lipat. Tapi, kualitas barang palsu tidak terjamin. Contoh soal kristal swaroszky yang asli dari Austria dengan yang palsu dari China. Yang asli lebih bercahaya, tidak bisa tergores dan lebih kuat.

“Tapi kalau konsumen yang sudah menjadi pelanggan tetap, mereka sudah tahu kualitas barang saya. Jadi berani membeli berapapun meski harganya tinggi,” papar perempuan berdarah Padang-Makassar ini. Uniknya, untuk para pelanggan setianya Fiya sudah tahu selera masing-masing. Sehingga, cukup pelanggan bilang seperti ini: bros berbentuk oval, warna coklat, terbuat dari mutiara, permata, maka Fiya sudah bisa menebak keinginan sang pelangan, berikut harga yang cocok. “Tak cuma sekali pelangan menelpon, lalu suruh saya tonton acara infotainment di TV saat itu, dia bilang, saya mau kalung seperti yang dipakai artis itu. Bisa dibikinin khan?” ucapnya sambil tertawa kecil.

Saat ini, harga produk Fiya dibanderol dengan harga mulai dari Rp200 ribuan sampai Rp3 jutaan per untai. Makin besar perhiasan itu, makin banyak batu-batu mahal yang dipakai, makin rumit pembuatannya, maka harganya akan makin tinggi.

Dengan 6 karyawan tadi. Fiya mengaku bisa memproduksi 200 pieces perhiasan per bulan. Jumlah itu kebanyakan pesanan pasar lokal, sisanya sekitar 30 lusin diekspor ke pasar Spanyol dan Amerika Latin.

Setiap hari Fiya terus berkarya menciptakan karya yang baru. Maklumlah, saat ini produsen atau perajin seperti dirinya sudah banyak. Jika dirinya tidak kreatif, maka karyanya sudah ditiru rang lain. “Satu hal yang menjadi kunci sukses bisnis kerajinan tangan ini adalah rajin dan tekun. Kalau tidak sabar, maka produk yang dibuat kelihatan tidak cantik,” katanya memberi kiat.

Satu kiat lagi darinya adalah jadilah diri sendiri. Setiap orang punya ciri khas, sehingga pasti berbeda dengan karyawa orang lain. Konsumen akan bisa membedakan antara karya satu orang dengan karya lainnya.

Kini, modal awal sebesar Rp500 ribu telah berkembang biak. Sehingga bisa menghasilkan omset (di luar pameran) Rp30 juta setiap bulan. Namun, semua itu tak membuatnya berpuas diri. “Suatu saat saya ingin buka showroom sendiri di luar rumah. Tapi, karena pada dasarnya saya ini orang rumahan, menjadi ibu rumah tangga sambil mengurus suami dan mengawasi anak-anak yang sebenarnya sudah besar, rencana itu masih sebatas rencana saja. Karena untuk berbisnis ini saja bukan terpaksa, semuanya dilakukan karena hobi, enjoy dan fun. Kalau ada keuntungan, itu namanya rezeki dari Allah,” ucapnya mengakhiri perbincangan dengan DUIT! $ AGUSTAMAN

Baca Selengkapnya..

Gemericik Bisnis Air terjun Mini

Diposting oleh Agustaman | 13.27 | 0 komentar »

(Tulisan ini pernah saya tulis di majalah DUIT! edisi 03/Februari 2008)

Bersama sang suami, Rita Aprianti mewujudkan ide landscape mini air terjun dalam gentong yang mudah dipindah-pindah. Kreasinya sudah mendapatkan penghargaan dan melanglang buana ke mancanegara

Mendengarkan suara gemericik air terjun di dalam rumah atau ruangan kantor, boleh jadi kita akan terbuai dengan suasana alam yang membuat batin tenang. Bahkan, untuk mendapatkan suasana seperti air terjun aslinya, beberapa orang membuat air terjun buatan di rumah atau kantornya. Sayangnya, air terjun buatan tersebut susah dipindahkan bila suatu saat si empunya rumah atau kantor akan pindah tempat.
Pengalaman seperti itu pernah dirasakan oleh satu keluarga sahabat Rita Aprianti. Ceritanya, sang teman yang akan pindah rumah enggan meninggalkan landscape air terjun di taman rumahnya. “Mau ditinggal sayang. Kalau dibawa juga susah, pasti harus dihancurkan dulu karena sudah permanen,” kisah Rita, pemilik usaha Curug Gentong kepada DUIT!
Kesusahan sang teman membawa landscape air terjunnya tadi, ternyata menjadi berkah buat Rita. Dia mengaku justru menemukan ide bagaimana supaya landscape air terjun buatan bisa dibawa kemanapun kita mau tanpa harus membongkarnya dulu.
“Ide itu saya utarakan ke suami, Rery Endrico yang kebetulan punya bakat sebagai seniman. Kami kemudian mewujudkannya dalam bentuk landscape taman mini plus air terjunnya di dalam wadah terbuka berbentuk mangkuk gerabah dan mangkuk pot bunga,” papar Rita yang pada tahun 2003 memulai usaha dengan modal Rp5 juta.
Dari wadah terbuka, Rita dan suami kemudian mencoba membuatnya dalam wadah gentong yang dibelinya dari penjual tanaman. Gentong yang masih utuh kemudian satu sisi badannya dilubangi dengan alat khusus. Di dalam gentong itulah, Rico membuat landscape air terjun lengkap dengan tanaman plastik dan aksesoris lainnya. Untuk mengalirkan air terjun, Rico memakai mesin sirkulasi air. Keduanya lalu sepakat, produk tersebut menjadi trademark dan nama usaha mereka, “Curug Gentong.”
“Curug dalam bahasa Sunda itu berarti air terjun. Gentong jadi mediannya. Jadi, curug gentong berarti air terjun dalam gentong. Kami memang ingin menghadirkan suara gemericik air dalam rumah, untuk menenangkan batin pemiliknya,” kata Rita yang sebelum membuka usaha Curug Gentong sempat berjualan busana muslim dan kebutuhan rumah tangga.
Pada saat yang sama (2003) Pemkot Depok membuat pengumuman di beberapa media bahwa usaha rumahan yang berada di wilayah Depok bisa mendaftarkan usahanya ke Pemkot. Rita tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Meski produknya masih bisa dihitung dengan jari, dia tetap mendaftarkan usaha dan produknya ke kantor Pemkot Depok. “Saya ingat waktu itu mereka bilang, oh ini produk baru dan unik, oke silakan didaftarkan,” kenang ibu dua anak yang sudah menginjak remaja ini.
Tak hanya terdaftar sebagai usaha rumahan, Curug Gentong juga dimasukan sebagai mitra binaan Pemkot Depok. Bahkan, Pemkot membantu Rita untuk melegalisasi (mempatenkan) produknya. Sebagai mitra binaan, Curug Gentong diikutsertakan ke berbagai pameran yang difasilitasi Pemkot.
Dari situlah nama Curug Gentong mulai terdengar khalayak. “Tapi pesanan pertama justru datang dari teman-teman pengajian. Yang lain-lain mulai menyusul, seperti pesanan dari Dinas Koperasi dan UKM Depok 10 buah untuk kantor-kantor di Pemkot Depok,” jelas Rita.

Produknya Melanglang Buana
Ketika pesanan mulai banyak, Rita pun mulai menambah karyawan. Saat ini Rita mempekerjakan tiga orang karyawan di luar suaminya yang rela melepaskan status karyawan di perusahaan swasta dan kini bahu membahu bersama sang istri sebagai wiraswasta.
Pameran kecil dan besar juga diikutinya, seperti pameran yang diadakan Dekranasda Depok, Smes’co, Indonesia Expo, ICRA dan Inacraft. Bahkan, beberapa media menyambangi rumahnya untuk meliput usahanya. Hal ini membuat produknya makin dikenal. Beberapa selebritis seperti Tukul dan Mila Karmila adalah beberapa selebritis yang mengoleksi produk Curug Gentong. Sebagian produknya juga sudah melanglang buana ke mancanegara seperti Malaysia, Singapura, New Zealand, Filipina dan Jepang. Para pembeli asing ini sebagian membelinya ketika pameran dan sebagian lagi lewat orang lain.
“Kami memang menyasar pasar menengah atas,” ujar Rita yang mematok harga mulai dari Rp150 ribu-Rp700 ribu (curug gentong dan media terbuka).
Produk Curug Gentong yang pernah mendapat penghargaan dari pemkot Depok dan Juara III Kreatifitas Terbaik se-Jabar (2006) ini, jelas Rita, kini lebih banyak mengerjakan produk pesanan. Dalam sebulan, Curug Gentong bisa memproduksi sebanyak 50 item per bulan untuk memenuhi pesanan dari berbagai daerah di Indonesia. $ AGUSTAMAN

Baca Selengkapnya..

Celana Hawaii Buatan Tangerang

Diposting oleh Agustaman | 20.47 | 17 komentar »

(tulisan ini pernah saya tulis di majalah DUIT! edisi 06/III/Juni 2008)


Sejak masa pacaran, pasangan Lazim-Siti Fatimah memproduksi aneka celana Hawaii (celana pendek) dan pakaian anak, remaja dan dewasa untuk para pedagang grosir di Tanah Abang, Cipulir dan Jatinegara. Omsetnya sudah Rp80 juta per bulan

Kisah pasangan Lazim-Siti Fatimah nampaknya layak ditiru pasangan lain. Bayangkan, sejak masa pacaran keduanya sudah merintis jalan menjadi entrepreneur. Kini, pasangan yang sudah dikaruniai satu anak ini makin berkibar dengan usaha konveksinya. Dari usaha rumahan yang dilakukannya, kedua kini menjadi pemasok untuk para pedagang di pusat-pusat grosir pakaian di Jakarta.

Kisahnya dimulai ketika medio1997 Indonesia dilanda krisis moneter. Tak sedikit para pekerja yang kehilangan pekerjaannya karena terkena PHK. Sadar akan resiko yang mungkin menimpanya kelak, Lazim yang waktu itu masih kuliah di semester 3 jurusan ekonomi di Universitas Budi Luhur, Jakarta, terpikir untuk membuat usaha sendiri. “Terpikirnya kami mau bikin konveksi, memproduksi celana pendek karena waktu itu calon mertua punya kios yang jual celana di pasar Cipulir. Hitung-hitung ini multi nyambi, nyambi kuliah, nyambi pacaran dan buka lapangan pekerjaan,” kisah Lazim kepada DUIT!

Maka, bermodal uang Rp300 ribu hasil penjualan kalung emas milik sang pacar, Siti, kaduanya sepakat membeli satu unit mesin jahit seharga Rp120 ribu dan mesin obras bekas seharga Rp70 ribu. Sisanya, dibelikan bahan kain dan bahan baku lainnya di Tanah Abang. Setelah merekrut satu tetangganya seorang penjahit., mereka mulai memproduksi celana pendek yang mereka sebut celana Hawaii karena motifnya yang warna-warni. Waktu itu produksinya masih di rumah Siti di kawasan Pondok Aren, Tangerang.

Produksi perdana sebanyak 3 kodi awalnya hanya dipasarkan ke para tetangga. Sebagian juga dititipkan ke toko milik ibunda Siti. Tak dinyana, produksinya disukai konsumen. Bahkan, tiga bulan kemudian produksinya mulai ditambah. Penjahit juga tambah satu orang. “Sejak itu saya yakin produk kami bisa lebih laku. Maka, saya coba tawarkan ke pedagang di pusat grosir Tanah Abang. Alhamdulillah, ada satu pedagang yang memesan 9,5 kodi. Setelah habis, dia pesan lagi 20 kodi katanya mau dikirim ke daerah. Sambil pesan, dia kasih uang untuk saya pakai beli bahan. Sebagian keuntungan itu saya putar lagi untuk modal usaha,” papar Siti.

Pasangan yang menikah pada 2006 ini bahu membahu membesarkan usaha. Tak hanya celana Hawaii, tapi juga pakaian anak, remaja dan dewasa juga diproduksi. Dengan berkembangnya usaha, saat ini produknya sudah ada di pusat-pusat grosir pakaian di Jakarta, seperti Pasar Cipulir, Tanah Abang, Jatinegara, dan Pusat Grosir Cililitan. Oleh para pedagang itu, sebagian produk Siti-Lazim didistribusikan ke daerah. “Kami pun sudah menerima orderan di rumah dari daerah lewat telepon dan kami pun terbuka untuk kerjasama dengan siapapun,” terang Lazim yang kini sudah punya 25 karyawan ini.

Selain sudah punya karaywan yang jumlahnya lumayan tadi, kini kedua pasangan ini sudah mempunyai 2 unit mesin potong, 2 unit mesin obras, 1 unit mesin karetan, dan 25 unit mesin jahit, 1 unit mesin bordir serta beberapa desain peralatan lain. Dengan semua itu, dalam seminggu mereka kini sudah bisa memproduksi sekitar 250 kodi. Omsetnya diperkirakan mencapai Rp80 juta per bulan.

Kini, setelah menikah dan mempunyai anak, mereka memindahkan produksinya di rumah sendiri di komplek perumahan Graha Bintaro, Tangerang untuk tempat pemotongan kain dan satu rumah yang dikontrak tak jauh dari lokasi tersebut untuk penjahitan.. “Rumah yang kami tempati ini juga hasil usaha konveksi ini lho,” ujar Lazim diiyakan oleh istrinya.

Karena Lazim bekerja sebagai tenaga marketing sebuah bank swasta, Siti lah yang selama ini lebih banyak berperan di bagian produksi. “Alhamdulillah, meski ini awalnya pekerjaan sambilan, tapi sekarang bisa jadi penopang utama ekonomi keluarga dan membuka lapangan pekerjaan buat sebagian orang,” kata Lazim yang akan memasang merek sendiri: “Shaety”, kependekan dari nama usaha mereka CV Shaety Multiartha Permana. “Shae itu baik dalam bahasa Jawa. Ti, diambil dari nama istri. Multiartha bercita-cita usaha ini menghasilkan uang. Sedangkan Permana, nama anak laki-laki kami,” terang pria kelahiran Cilacap, 12 September 1978 ini tentang filosofi nama usahanya. $ AGUSTAMAN

Baca Selengkapnya..

(Tulisan ini pernah saya tulis di majalah DUIT! edisi 06/I/Oktober 2006)

Cukup berkantor di rumah dengan seperangkat komputer dan jaringan internet, Dini Rahma Shanti bisa menjalankan bisnis MLM Bel’Air dengan sukses

Hari belum begitu siang. Suara gonggongan anjing dan celotehan burung kakak tua yang ada di rumah bernuansa asri tersebut nampaknya tak membuat si empunya rumah terganggu. Di beranda samping rumah, Dini Rahma Shanti, si empunya rumah nampak asyik berkutat dengan laptop-nya. Matanya memelototi email-email yang masuk ke situsnya. Sebagian email datang dari orang-orang yang ingin tahu bisnis multi level marketing (MLM) Bel’Air, sebagian lagi member d’BC (Business Chain) Indonesia- jaringan Bel’Air yang didirikannya sejak 2004 lalu.

“Saya merasa, dengan memiliki bisnis sendiri, apalagi bisa dilakukan dari rumah sambil momong anak, merupakan anugerah Tuhan yang sangat besar. Belum lagi kalau mau dihitung dengan penghasilan yang jauh lebih besar ketimbang bekerja kantoran. Dengan bekerja sendiri dari rumah, saya merasa lebih aman dari aksi kriminal di jalan dan kemacetan yang luar biasa. Dan yang penting, bebas dari tekanan atasan yang bikin stress,” jelas alumnus Warcester Polytechnic Institute Massachusetts, AS

Dengan latar belakang teknik elektro, pekerjaan perempuan kelahiran 1972 ini memang tak jauh-jauh dari komputer. Dia pernah bekerja sebagai engineering officer di sebuah perusahaan telekomunikasi asing yang berkantor di Bekasi. Tak lama setelah itu, pada posisi yang sama, dia pindah ke perusahaan lain. Tapi, pengetahuannya soal komputer dan internet marketing justru didapatnya ketika dia harus berhenti bekerja karena kelahiran anaknya. Ketika kembali bekerja, lagi-lagi Dini pun berhadapan dengan pekerjaan berbau informasi teknologi (IT).

Kesenangannya pada dunia IT (internet) menjadikan Dini sering berinteraksi dengan banyak orang. Berbagai tema diskusi yang ada di berbagai milis dia ikuti, terutama soal ibu dan anak. Malah pada 2001 silam, secara “one (wo)man show” dia membuat situs www.dunia-ibu.org. Situs ini mendapat sambutan luar biasa. Dalam suatu diskusi di situs tersebut, Dini bercerita tentang keadaan anak sulungnya yang tak kunjung sembuh terkena penyakit batuk. Seorang anggota diskusi menyarankan dia memakai Bel’Air, produk aroma terapi yang dipasarkan dengan sistem networking. Setelah mencoba memakainya dan berhasil, Dini lalu membagi pengalamannya ke ibu-ibu anggota milis lainnya di internet.

Jadi Bos Untuk Diri Sendiri

Di penghujung tahun 2003, lewat bantuan Dian Paham, teman milis yang akhirnya menjadi up line, Dini memutuskan untuk menjadi distributor MLM Bel’Air. Hanya saja, bisnis MLM yang sebenarnya dijalankan secara offline ini, oleh Dini dilakukan dengan cara on line lewat internet. “Saya terilhami oleh internet marketing yang dijalankan Anne Ahira (dara asal Bandung yang sukses menjalankan bisnisnya lewat internet, red.)” kata Dini yang sempat bergabung dengan Elite Team-nya Anne Ahira. “Lagi pula memasarkan lewat internet kerjanya relatif sederhana. Paling-paling hanya biaya akses internet selama 1-2 jam/hari.”

Hanya dalam kurun waktu 4 bulan menjalani bisnis itu, Dini mulai mendapatkan tambahan finansial di luar gaji pokoknya sebagai karyawan perusahaan IT. “ Terus terang, saya punya pengalaman kurang enak dengan MLM. Namun karena saya merasa bahwa Bel’Air ini berbeda dengan MLM kebanyakan, dimana 99% pasar saya dapat dari internet, saya makin yakin ini bisnis yang sangat bagus,” ujar ibu dari Wahyu Farandi (9) dan Raissa (6) ini.

Kini, seiring dengan tambahan penghasilan yang sudah mencapai angka puluhan juta, Dini yang kini sudah di posisi marquis ( jenjang tertinggi di Bel’Air) tak lagi bekerja di kantoran seperti dulu. Kini, tak ada lagi perintah atasan, karena bos-nya dirinya sendiri. Dengan bekerja di rumah lewat fasilitas komputer dan internet, dirinya bisa punya waktu banyak mendampingi anak-anaknya.

Melalui d'BC Indonesia, Dini yang kini punya sekitar 5 kaki menjalankan dan mengembangkan jaringannya secara on line. “Dari semua kaki saya, hampir semuanya berkomunikasi lewat internet atau telepon. Sedikit yang bisa bertemu langsung. Tapi untuk suplai produk, saya selalu mengirimkan mereka dari Jakarta lewat jasa kurir milik kakak saya,” papar Dini yang menerapkan pola cash on delivery.

Lewat situsnya pula, Dini bisa memberikan sejumlah informasi, petunjuk, dan tips-tips secara lebih detail kepada calon distributor yang tertarik bisnis MLM ini. Bahkan, jika ada yang bergabung bersama d'BC Indonesia, Dini siap memberikan pelatihan gratis selama 35 jam (selama 7 minggu) tentang mekanisme bisnis dan cara melakukan pemasaran, secara on line. “Semua pelatihan ini dikemas dalam bentuk email dan file presentasi yang mudah dimengerti. Semuanya akan menjawab segala macam pertanyaan dan penasaran orang-orang yang membuka web site saya,” tandas Dini mantap. $ AGUSTAMAN



Baca Selengkapnya..

(Tulisan ini pernah saya tulis di Majalah DUIT! edisi 11/II/November 2007)

Aktivis pemberdayaan masyarakat, Menik Sumasroh mengolah dan memasarkan ikan hasil tangkapan nelayan. Dia juga memproduksi aneka minuman tanpa bahan pengawet. Meski pabrik minumannya kebakaran, dia tetap meneruskan usaha.

Ikan asin merupakan produk olahan ikan yang sangat popular dan digemari berbagai kalangan. Namun, sayangnya disinyalir banyak ikan asin yang beredar di pasaran mengandung berbagai bahan kimia seperti formalin dan pestisida yang membahayakan kesehatan manusia. Hal ini dilakukan para perajin dan pedagang dengan dalih untuk menjaga keawetan ikan asin dalam waktu lama.

Pengasinan ikan dilakukan sebagai upaya untuk memanfaatkan ikan yang tidak laku dipelangan, sehingga kualitas bahan baku sudah tidak baik. Produk ikan asin yang dihasilkannya pun akan cepat rusak, apalagi dengan kualitas ikan yang hampir busuk akan mengundang lalat saat ikan asin dijemur. Maka, penggunaan formalin maupun pestisida menjadi jalan keluar karena kekurangan pahaman wawasan mereka untuk mencegah munculnya belatung dan keruskan ikan karena mikroba halofilik.

“Padahal, untuk menghasilkan ikan asin yang awet dan sehat dapat dilakukan tanpa harus menambahkan bahan-bahan yang berbahaya bagi kesehatan manusia, asalkan ikan asin diolah secara benar. Garam merupakan bahan alami yang berfungsi mengawetkan selain memberikan rasa asin,” jelas Menik Sumasroh, pemilik Ermen Food Industry.

Didorong rasa keprihatinan tadi, sejak tahun 1998 Menik bersama-sama dengan beberapa temannya yang tergabung dalam LSM Pusat Peran Serta Wanita dan LSM Cerdas Bangsa melakukan pembinaan kepada masyarakat nelayan tangkap dan kelompok wanita pengasinan untuk membuat ikan asin yang memenuhi standar kualitas pengolahan pengan yang baik dan benar (tanpa bahan pengawet).

Berawal dari keterlibatannya di kelompok nelayan yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia, Menik kemudian mengambil produk ikan asin dari mereka, mengemasnya di rumah lalu menjualnya ke konsumen.

“Satu setengah tahun yang lalu ketika maraknya berita soal makanan berformalin, saya membeli produk ikan asin binaan LSM kami ke rumah. Saya kemas sendiri dengan merek Civa lalu memasarkannya ke masyarakat, lewat perorangan, outlet, restoran, katering dan hotel,” cerita Menik yang juga Ketua LSM Pusat Peran Serta Wanita dan Sekjen LSM Cerdas Bangsa ini kepada DUIT!.

Ternyata peminat ikan asin cukup tinggi, terbukti dari produksi ikan asin yang Menik lakukan cukup diminati konsumen. Meskipun awalnya mereka ragu-ragu memilih ikan asin karena takut mengandung formalin, tapi dengan penjelasan yang meyakinkan para penggemar ikan asin kembali mengonsumsinya.

“Dalam sehari rata-rata saya dapat menyediakan 25 jenis ikan asin sebanyak Rp150 kg, mulai dari teri nasi, gabus, sampai jambal roti. Ikan teri nasi dan jambal roti yang paling diminati konsumen,” papar sarjana Teknologi Pangan IPB yang mengaku bisa mengantungi omzet Rp4 juta/hari dari jualan ikan asin.

Tak hanya ikan asin yang diproduksi Menik. Ibu lima anak ini juga memproduksi aneka olahan ikan asin, seperti balado ikan kipas-kipas, balado teri, teri bawang kacang dan dendeng ikan. Belakangan, Menik yang dibantu tiga karyawannya di rumah juga memproduksi aneka olahan bandeng.

“ Untuk ikan bandeng ini, saya ambil dari binaan nelayan di Muara Gembong, Bekasi karena kebetulan saya membuat madrasah tsanawiyah di sana, juga dari nelayan Selo Sendang, Tangerang,”sambung mantan pengajar bimbingan belajar ini.

Semua produk ikan asin dan bandeng tersebut, dia jual mulai harga Rp2.500-Rp80.000 per kemasan (berat satu kemasan biasanya seperempat kilo).

Menurut perempuan kelahiran Semarang, 1970 ini prospek bisnis ikan asin sebenarnya cukup bagus. Selain pangsa pasarnya masih luas, sumber bahan bakunya pun melimpah di wilayah perairan nusantara. Jika usaha ini dilakukan optimal, kelak produk ikan asin tak perlu diimpor lagi seperti yang dilakukan Indonesia saat ini.

“Bukan itu saja. Bila itu dilakukan optimal, kebutuhan ikan asin bisa terpenuhi. Nelayan pun sejahtera karena hasil tangkapannya dapat terpasarkan semua. Sehingga mereka bisa keluar dari jaringan tengkulak,” beber mantan asisten dosen di almamaternya ini.

Musibah Kebakaran

Selain memproduksi ikan asin dan bandeng olahan, Menik ternyata sudah memproduksi aneka minuman dalam kemasan, seperti nata de coco (sari kelapa), aloe vera (lidah buaya), sirup rumput laut, orange juice, sari asem, teh dan kopi. Menik juga memproduksi vegetable snack seperti keripik wortel dan keripik jamur tiram.

Menik memulai usaha aneka minuman dan vegetable snack sejak 1997 silam. “Awalnya saya memproduksi nata de coco karena ketika itu makanan ini belum banyak dibuat orang. Kebetulan saya bisa mengolahnya dan bahan bakunya melimpah,” cerita Menik yang memulai usahanya dengan uang Rp500 ribu hasil utangan dari perkumpulan arisan di rumahnya.

Semula dia mengerjakan sendiri di rumahnya di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur. Ternyata produk yang ketika itu masih jarang dibuat orang disukai tetangga, teman dan kerabatnya. Pesanan pun makin banyak. Sejak itulah dirinya mulai berpikir untuk memproduksi secara massal.

“Dari duit yang terkumpul hasil perputaran penjualan, kemudian saya beli lahan di Cakung untuk saya jadikan pabrik kecil-kecilan. Saya beli mesin pengolah dan menambah karyawan sampai berjumlah 34 orang,” kata istri dari Eri Mulyorinawan, seorang wiraswastawan.

Dari pabrik itu tak hanya nata de coco yang diproduksi. Menik juga mulai memproduksi aneka minuman dalam kemasan lainnya. Produknya tersebut dijual ke beberap agen/distributor consumer good di Jakarta dan sekitarnya. Bahkan, ada juga produsen sejenis yang memesan ke pabrik milik Menik, dan menjualnya lagi dengan merek mereka sendiri.

Seiring bertambahnya pesanan, Menik lalu mendirikan satu lagi pabrik sejenis di Tajurhalang, Cijeruk, Bogor. Dengan jumlah karyawan 16 orang, pabrik ini lebih banyak memproduksi minuman orange juice dan sari asem.

Namun, malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih. Tahun 2005, pabriknya yang di Cakung kebakaran akibat kecerobohan pemilik warung bakso yang bersebelahan persis dengan pabriknya. Meski, omzet produk minumannya tak seperti sebelumnya (sebelumnya bisa lebih dari Rp25 juta/bulan), Menik tak menangini nasib. Dia tetap menjalankan usahanya meski untuk itu dia harus “meminjam” pabrik ke orang lain untuk memproduksi aneka minuman dan menawarkan rumahnya untuk dibeli orang lain.

“Bagaimanapun saya masih punya kewajiban untuk menutup kewajiban ke pemasok. Sementara pembayaran dari para pelanggan saya pun masih belum mereka lunasi semua. Makanya, dengan berat hati rumah yang kami tempati sejak 1995 ini mau dijual demi kewajiban itu. Tapi, sebagai orang beriman saya percaya Allah akan memberi rezeki buat umatNya yang berusaha benar di jalan Allah,” tutur Menik dengan mata berkaca-kaca. $ AGUSTAMAN


Baca Selengkapnya..

Mengemas Souvenir dalam Wadah Cantik

Diposting oleh Agustaman | 14.31 | 3 komentar »

(Tulisan ini pernah saya tulis di majalah DUIT! edisi 02/III/Februari 2008)


Dibantu enam karyawan, Dosy Rahmad memproduksi aneka boks cantik pesanan beberapa perusahaan ternama. Dia iklas memberikan pengetahuannya lewat pelatihan pembuatan produk/kemasan supaya bernilai jual tinggi buat para pengusaha UKM.

Jarak Bekasi Barat dengan kawasan Kebon Nanas, Jakarta Timur apalagi melewati jalan raya Kali Malang yang kerap macet, sebenarnya relatif cukup jauh dan melelahkan. Namun, hal tersebut tak menghalangi Dosy Rahmad menyambangi anak buahnya di sebuah rumah di Komplek AL, Jl. D.I Panjaitan Bypass. Maklumlah, di rumah sekaligus workshop tersebut, enam anak buah Dosy sehari-hari mengerjakan kerajinan tangan pembuatan aneka souvenir boxes pesanan beberapa perusahaan.

“Bagaimanapun sibuknya saya, sesekali harus datang ke workshop untuk melihat kerja karyawan. Walaupun sudah bisa 'dilepas', tapi untuk urusan desain dan administrasi tetap saya yang menangani,” papar Dosy kepada DUIT! Apalagi, katanya, dia harus menyelesaikan pesanan aneka boks dari sebuah perusahaan terkenal yang kini sudah masuk tahun kedua.

Setahun belakangan ini Dosy memang harus membagi waktunya antara bekerja sebagai karyawan di perusahaan kontraktor Adimix dan mengawasi usaha yang dirintisnya sejak tahun 2000 silam. “Kebetulan saat ini perusahaan saya sedang mengerjakan proyek pusat perbelanjaan di Bekasi,” sambung arsitek lulusan Universitas Persada Indonesia YAI, Jakarta ini.

Sebagai arsitek, Dosy sudah terbiasa membuat maket properti dari bahan-bahan kertas, karton maupun plastik. Tapi, justru dari situlah dia tertarik membuat boks dari bahan baku karton. Alasannya, mudah dibuat karena hanya butuh karton, cutter, penggaris besi, pulpen dan lem. Selain mudah dibuat, bahan bakunya mudah didapat dan murah. Mengaku belajar secara otodidak, Dosy lalu mencoba sebuah produk boks dengan karton hard board, melapisinya dengan kertas printing dan kertas daur ulang.

“Waktu itu hasilnya, menurut saya, sudah lumayan. Karena, waktu saya bawa ke teman-teman, mereka minta dibikinin. Mulai dari situlah saya dapat order kecil-kecilan,” ujar Dosy yang memulai usahanya pada tahun 2000 dengan modal hanya Rp50 ribu saja. Dia menamai usahanya dengan nama “Ide Dosi”.

Seperti peribahasa bilang, sedikit-dikit lama-lama jadi bukit, begitulah usaha Dosy. Dari satu order kecil, lama-lama dapat order besar. Order bertambah, karena Dosy mengaku ikut rajin pameran di beberapa tempat untuk memperkenalkan produknya ke konsumen.

Pesanan pertama yang lumayan jumlahnya datang dari perusahaan tambang besar Rio Tinto. Tak lama kemudian, BCA juga meminta produknya sebagai souvenir gift buat para nasabahnya. Untuk mengerjakan pesanan besar tadi, Dosy meminta bantuan teman-temannya. Ketika itu dia masih mengerjakan di rumahnya, kawasan Kali Malang, Jakarta Timur.

“Dulu kalau lagi banyak order, kami bisa mengerjakan sampai belasan orang, lho!,” terang Dosy yang kemudian memindahkan workshop-nya ke rumah kosong milik tantenya di komplek AL, Kebon Nanas, Jakarta. Apalagi, sambungnya, ketika itu Ide Dosi masih memasok untuk toko cindera mata, Chicmart, di Pasar Festival, Kuningan, Jakarta. Toko tersebut cukup ramai dikunjungi pembeli yang kebetulan berbelanja di Carrefour Kuningan. Tapi, ketika Carrefour harus pindah ke kawasan Casablanca, toko tersebut menjadi sepi. Dan itu berdampak juga buat produksi Ide Dosi.

“Sekarang anak buah saya tinggal enam orang karena memang ada penurunan pesanan. Tapi, jika ada order besar lagi, pasti saya tambah orang,” kata pria berdarah Flores kelahiran 1975 ini.

Tak Melayani Retail

Dengan ditutupnya toko Chicmart yang dulu dipasoknya, Dosy mengaku dirinya kini tak melayani lagi pesanan retail. Dia hanya melayani pesanan besar dari beberapa perusahaan ternama. Saat ini, Ide Dosi sedang mengerjakan pesanan aneka boks dari pihak ketiga, Amaralis Floral & Party Decorator. Perusahaan yang didirikan oleh Atika Shahab ini memesan untuk kliennya, antara lain Standart Charter dan Citibank. Khusus Citibank, kata Dosy, produk yang dikerjakannya sudah masuk tahun kedua.

Di luar itu, Dosy juga menerima pesanan dari beberapa pembeli yang kebanyakan perusahaan, seperti perusahaan kosmetik dan advertising. “Umumnya mereka memesan untuk produk yang mau diluncurkan ke konsumen. Ada juga untuk corporate gift,” ujar suami dari Yogiswari Pradjanti, produsen keramik ogiYogi.

Dosy juga rajin ikut ajang pameran, semisal di Inacraft dan beberapa pemaran yang diadakan Dekrasda DKI dan Sudin Perdagangan Jakarta Timur. “Kami menjadi binaan mereka. Jadi kalau ada pameran selalu diajak. Waktu ikut pameran Inacraft 2006 dan 2007 kemarin juga atas kebaikan binaan kami tadi,” jelas Dosy.

Saat ini Dosy sudah meluncurkan ratusan item boks dengan berbagai model dan bahan pelapisnya. Bahan baku utama boks buatan Dosy adalah kertas karton hard board (ketebalan mulai 1,5 ml-4 ml) yang dia dapatkan dari pemasok di Tanah Abang dan Mangga Dua, Jakarta. Terkadang dia juga memakai bahan baku MDF (semacam triplek berbahan baku bubur kayu alias particle board). Sedangkan untuk melapisinya, Dosy memakai kertas printing/fancy, kertas daur ulang, dan kulit sintetis.

Untuk penjahitannya (karena ada beberapa model pelapis harus dijahit), Dosy memanfaatkan penjahit freelance yang dikenalnya. “Kalau ordernya kecil, ya dikerjakan sendiri. Tapi kalau banyak, mesti diorder ke lain tempat. Untuk potong kertas misalnya, kita minta tolong ke pemasok supaya langsung di potong sesuai ukuran yang diminta. Kami tinggal melipat dan mengelem saja,” kata Dosy yang punya 5 mesin (antara lain mesin jahit dan mesin embos).

Dengan kapasitas produksi 500-1000 boks per bulan dan harga jual mulai dari Rp10.00 ribu-Rp250 ribu/boks, Dosy mengaku bisa mengantungi keuntungan bersih rata-rata Rp50 juta per bulan.

“Pasar produk ini sebenarnya masih luas. Bahkan, terkadang sesama pemain kita justru kerjasama dan saling membantu. Misalnya, kalau satu kelebihan order tapi tak sanggup mengerjakan sendirian, dibagi ke pemain lain. Begitu juga, kalau dia menerima pesanan tapi barang kosong, dia lari ke tempat lain,” papar Dosy yang masih menyempatkan diri memberikan pelatihan dan workshop tentang pembuatan kemasan supaya bernilai jual tinggi untuk para pengusaha UKM di Dekranasda DKI ini. $ AGUSTAMAN.



Baca Selengkapnya..